NABIRE|MEB.COM — Imbauan tokoh pemuda sekaligus tokoh gereja di Nabire, Papua Tengah, Yeri Murib, agar masyarakat tidak terlibat dalam aksi demonstrasi menuai perhatian publik. Seruan tersebut disampaikan sebagai upaya menjaga keamanan di tengah beredarnya isu rencana aksi di sejumlah wilayah, termasuk Nabire Timur dan Nabire Barat.
Dalam keterangannya, Yeri mengingatkan bahwa aksi demonstrasi berpotensi menimbulkan risiko, tidak hanya bagi peserta, tetapi juga masyarakat luas yang tidak terlibat langsung. Ia menilai situasi yang tidak terkendali dapat berujung pada korban dan berdampak pada keluarga serta lingkungan sekitar.
“Kalau sampai terjadi korban, bukan hanya individu yang merasakan, tetapi seluruh keluarga ikut terdampak,” ujarnya.
Sejumlah kalangan menilai imbauan tersebut sebagai langkah preventif yang wajar, mengingat dinamika sosial di wilayah Papua yang kerap sensitif terhadap isu-isu tertentu. Stabilitas keamanan dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga aktivitas masyarakat tetap berjalan normal.
Namun di sisi lain, pandangan berbeda juga muncul. Beberapa pihak menekankan bahwa penyampaian aspirasi melalui aksi demonstrasi merupakan bagian dari hak warga negara dalam sistem demokrasi. Karena itu, yang diperlukan bukan sekadar larangan, melainkan pengelolaan aksi agar tetap berlangsung damai dan tertib.
Pengamat sosial menilai peran tokoh masyarakat dan agama sangat penting dalam menjembatani kedua kepentingan tersebut. Selain mengimbau ketenangan, mereka juga diharapkan dapat mendorong dialog terbuka antara masyarakat dan pihak terkait, sehingga aspirasi tetap tersalurkan tanpa memicu konflik.
Situasi di Nabire saat ini menunjukkan perlunya keseimbangan antara menjaga ketertiban dan menghormati kebebasan berekspresi. Masyarakat pun diimbau tetap tenang, tidak mudah terprovokasi, serta mengedepankan cara-cara damai dalam menyampaikan pendapat.***


