Jakarta|Mediaerabaru.com – Perjalanan panjang di dunia musik ternyata belum membuat seorang musisi senior bisa menikmati sepenuhnya hasil karya yang selama puluhan tahun menghibur masyarakat. Di tengah polemik pengelolaan royalti yang dinilai belum transparan, ia masih harus berjuang mendapatkan hak dari lagu-lagu yang terus diputar dan digunakan hingga hari ini.
Salah satu karya yang paling melekat dengan namanya adalah lagu “Mati Lampu”. Lagu tersebut disebut masih banyak digunakan, bahkan kerap terdengar di sejumlah program televisi. Selain “Mati Lampu”, sejumlah karya lain seperti “Tak Bosan”, “Masih Ada Aku”, hingga “Harta dan Surga” juga disebut masih memiliki nilai ekonomi dari sisi royalti.
Namun, menurutnya, persoalan justru muncul ketika royalti yang dinanti tidak kunjung diterima secara jelas. Ia mengaku kecewa dengan kondisi tersebut dan mempertanyakan mekanisme pengelolaan serta transparansi lembaga yang bertugas mengurus persoalan royalti.
“Saya merasa terzalimi. Lagu dipakai, tetapi kami masih menunggu. Sampai sekarang belum ada kejelasan,” ujarnya.
Kekecewaan itu bahkan membuat dirinya bersama sejumlah musisi dan komunitas musik beberapa kali melakukan aksi untuk menyuarakan persoalan royalti. Aksi tersebut bukan kali pertama dilakukan. Ia menyebut perjuangan bersama para pencipta dan musisi bahkan telah berlangsung dalam beberapa jilid aksi.
Menurutnya, persoalan royalti bukan sekadar soal nominal. Bagi para pencipta lagu, uang tersebut merupakan bentuk penghargaan terhadap karya yang mereka hasilkan dan menjadi sumber penghasilan, terutama bagi musisi yang sudah tidak lagi aktif tampil seperti dahulu.
Ia bahkan menyinggung sejumlah rekan seprofesinya yang meninggal dunia sebelum sempat menikmati hasil karya mereka. Kondisi tersebut semakin menguatkan tekadnya untuk terus memperjuangkan hak para pencipta dan musisi.
Perjalanan kariernya sendiri sudah dimulai sejak era 1990-an. Pada 1995, ia pernah membentuk sebuah trio bersama Nelly Agustin. Dari sana, kecintaannya terhadap musik terus berkembang. Ia juga mencoba bersolo karier dengan merilis sejumlah lagu, meski tidak semuanya berhasil mengangkat namanya ke tingkat popularitas yang lebih luas.
Di luar musik pop, perjalanan kreatifnya juga bersinggungan dengan musik qasidah. Ia terbiasa membuat syair dan menciptakan lagu berdasarkan pengalaman serta kondisi yang ada di sekitarnya.
Kariernya kemudian semakin dikenal setelah lagu “Mati Lampu” mendapat tempat di tengah masyarakat. Lagu tersebut bahkan dianggap sebagai salah satu karya yang ikut membesarkan namanya, termasuk melalui berbagai penampilan dan program televisi.
Kini, setelah puluhan tahun berkarya, ia justru harus kembali turun ke jalan bersama komunitas musik untuk memperjuangkan sesuatu yang menurutnya merupakan hak dasar seorang pencipta.
Ia mengaku tidak ingin menyerah meski perjuangan tersebut telah berlangsung cukup lama.
“Saya akan terus berjuang. Saya tidak menyerah, karena ini bukan hanya untuk saya, tetapi juga untuk teman-teman musisi dan pencipta lagu lainnya,” tegasnya.
Baginya, karya musik seharusnya tidak berhenti menjadi hiburan. Ketika sebuah lagu digunakan dan menghasilkan keuntungan, penciptanya juga berhak mendapatkan penghargaan yang layak.
Ia pun berharap persoalan royalti dapat segera menemukan jalan keluar sehingga para pencipta lagu tidak lagi harus berulang kali melakukan aksi hanya untuk mempertanyakan hak mereka.
Sebab, bagi musisi yang telah menghabiskan puluhan tahun hidupnya di dunia musik, royalti bukan sekadar angka. Itu adalah bentuk penghargaan atas karya yang tetap hidup, bahkan ketika sang pencipta sudah tak lagi berada di atas panggung.


