Sepak Bola Kita ‘Kecilkan’ Pembinaan

Sejak Indonesia merdeka hingga kini sepakbola kita masih begitu-begitu saja, belum ada hal yang menggembirakan 200 juta rakyat Indonesia. Berapa tahun terakhir memang  nama Indonesia diperhitungkan di kawasan Asia, tapi isinya 80 persen pemain naturalisasi, sulitkah mencari  pemain lokal? Dan apakah tidak ada pembinaan sejak usia belia?

Kalau kita mau jujur, sebenarnya tidak sulit mencari pemain berbakat, pergi saja ke daerah-daerah pasti ada SSB (Sekolah Sepak Bola, atau mampir ke plosok desa, pasti ada anak-anak bermain bola, tanpa sepatu, gawangnya pun hanya ditandai tumpukan batu.

Apakah sesulit itu mencari pemain atau kita yang tak mau membina, lebih memilih cara instan ‘comot’ sana ‘comot’ sini dari negara sepakbola lalu ‘distempel’ pemain timnas. Padahal cara terbaik adalah pembinaan. Contohlah bulutangkis, tak pernah putus menghasilkan atlet berprestasi internasional.

Saat ada sekelompok orang yang peduli dengan sepak bola, lalu membuat kompetisi tahunan untuk usia 15  dan 17 tahun, malah tidak didukung wadah sepak bola nasional, bahkan dicemo’oh dan dikerdilkan  upaya mereka.

Mereka juga bukan sekedar hobi nonton sepak bola tapi orang-orang yang paham dan pernah menekuni dunia bola sepak. Ada pengamat, pelatih, pencari bakat, wartawan, wasit, dan anggota wadah besar sepak bola nasuonal.

Seperti pepatah “anjing menggonggong kafilah berlalu”, begitulah mereka terus memutar roda kompetisi. Dan untungnya orang nomer satu di DKI mendukung upaya mereka, meski federasi tak melirik tapi kepala daerah menyokong.

Mereka melihat anak-anak di usia itu tak pernah diberi kesempatan berkompetisi, mereka hanya berlatih tapi pernah merasakan atmosfir pertandingan sebenarnya. Maka bergulir lah kompetisi tersebut, sekaligus pembinaan untuk mereka.

Kompetisi yang digelar pun bukan kaleng-kaleng, ambil istilah orang Medan, mereka mempelajari kompetisi usia belia dari negara-negara yang jadi kiblat sepakbola dunia. Sepak bola di sana bisa besar dan mendunia karena menggelar kompetisi sejak usia belia.

Masyarakat pernah tahu catatan Marcelino striker timnas, main dimana saja atau ikut kompetisi apa sebelum masuk timnas? Dipastikan tidak pernah, paling catatan yang ada saat ia main klub profesional, tanpa diketahui dari SSB mana atau pernah terlibat di kompetisi mana saat usia 15 tahun.

Tahu hal itu, sekelompok orang tersebut  membuat Kompetisi bernama Liga Jakarta U-17 dan Piala Suratin U-15, sejak SBB nya mendaftar jadi peserta, seluruh pemain dicatat asal usulnya, bahkan catatan pertandingan pun direkab. Ini salah satu hal yang mereka pelajari dari kompetisi usia muda di luar sana.

10 tahun mendatang, andai pemain di Liga Jakarta dan Piala Suratin menjadi pemain profesional, catatan saat mereka masih dibina ada. Dan kasus seperti Marcelino yang tak bisa bermain di liga Eropa tak terjadi lagi, gagalnya penyerang  timnas itu karena tak memiliki catatan saat masih dalam pembinaan.

Seharus federasi ikut terlibat dalam kompetisi itu, setidaknya mendukung bukan memandang sebelah mata Liga Jakarta, ini untuk pembinaan, untuk masa  depan sepak bola nasional. Agar tak lagi hilang kesempatan emas pemain timnas merumput di liga Eropa.

Pos terkait