Jakarta | Mediaerabaru.com – Anak muda Malaysia coba menembus pasar musik Indonesia lewat musik ‘padang pasir’, dentingan sitar dan tetabuhan khas negeri Arab mengalun indah mengajak pendengarnya bebas berekspresi.lagu yang diperkenalkan adalah “Marhaban”, yang menjadi bagian dari langkah awalnya membangun perjalanan musik di Indonesia.
Dia Syed IPerlis, Malaysia Utara, dan kini tinggal di Kuala Lumpur, penyanyi berusia 25 tahun tersebut membawa warna musik Arab dan gambus yang dipadukan dengan lirik yang diharapkan mampu diterima pendengar dari berbagai kalangan.
Musik tidak mengenal batas negara. Hal itu pula yang coba dilakukan seorang penyanyi muda asal Malaysia yang mulai memperkenalkan karya-karyanya kepada penikmat musik di Indonesia.
Berasal dari Perlis, Malaysia Utara, dan kini tinggal di Kuala Lumpur, penyanyi berusia 25 tahun tersebut membawa warna musik Arab dan gambus yang dipadukan dengan lirik yang diharapkan mampu diterima pendengar dari berbagai kalangan.
Kehadirannya di Indonesia mendapat dukungan dari manajemen yang melihat besarnya potensi pasar musik Tanah Air, khususnya melalui kekuatan media sosial seperti TikTok. Sejumlah lagunya bahkan telah digunakan pengguna TikTok dan mendapat respons cukup besar.
Salah satu lagu yang diperkenalkan adalah “Marhaban”, yang menjadi bagian dari langkah awalnya membangun perjalanan musik di Indonesia. Selain itu, ia juga membawa sejumlah lagu yang sebelumnya sudah dikenal di kawasan Nusantara, termasuk Malaysia dan Singapura.
“Saya ingin memperkenalkan lagu-lagu saya di Indonesia. Mudah-mudahan bisa diterima dan menghibur masyarakat”, ucapnya.
Menurut dia, musik bukan sekadar hiburan. Lagu yang dibawakan dengan bahasa Arab juga diharapkan dapat memberikan ketenangan bagi pendengarnya ketika memahami makna yang terkandung di dalamnya.
Ketertarikannya terhadap musik Arab tidak muncul secara tiba-tiba. Ia mengaku telah banyak mempelajari bahasa Arab dan memiliki pengalaman belajar di luar negeri, termasuk ketika berada di Mesir. Pengalaman tersebut ikut membentuk karakter musik yang kini dibawanya.
Meski berasal dari Malaysia, kedekatannya dengan Indonesia membuat dirinya tidak merasa asing. Ia memiliki sejumlah teman dan guru dari Indonesia yang turut membantu proses pengembangan kariernya, termasuk dalam memahami bahasa Indonesia.
“Bahasa Indonesia saya masih belajar. Saya sedikit-sedikit tahu bahasa sehari-hari”, ungkapnya.
Ia juga mengaku menikmati berbagai hal tentang Indonesia, mulai dari masyarakat hingga kulinernya. Salah satu makanan Indonesia yang pernah dicicipinya adalah ayam geprek.
Ke depan, ia membuka peluang untuk berkolaborasi dengan musisi Indonesia. Menurutnya, perjalanan bermusik masih panjang dan dirinya masih terus belajar untuk mengembangkan kemampuan, baik dalam bernyanyi maupun menciptakan karya.
Manajemen pun tengah mempersiapkan sejumlah materi baru. Salah satunya berkaitan dengan lagu bertema hari raya dan nilai-nilai spiritual yang diharapkan dapat memberikan pesan sekaligus hiburan bagi pendengar.
Ia berharap karya-karyanya tidak hanya berhenti di Malaysia, tetapi dapat menjangkau pendengar lebih luas di Indonesia, Singapura, hingga negara-negara lainnya.
“Kalau ada peluang, saya siap berkolaborasi dengan siapa saja di Indonesia”, katanya.
Bagi penyanyi muda tersebut, Indonesia bukan sekadar pasar baru. Negeri ini juga menjadi ruang untuk belajar, bertemu dengan musisi baru, dan memperluas perjalanan bermusiknya yang masih panjang.


