Jakarta | Mediaerabaru.com – PSF Academy tidak memberi banyak ruang bagi Real Jakarta untuk bernapas. Bermain agresif sejak menit awal, PSF menguasai jalannya pertandingan hingga pesta 5 gol tanpa balas pada pekan kesembilan Piala Soeratin U-15 Piala Gubernur di lapangan sintetis 2 PSF, Pancoran, Sabtu (4/10).
PSF langsung menunjukkan perbedaan permainan sejak peluit awal. Serangan yang dibangun secara terorganisasi membuat pertahanan Real Jakarta kerepotan. Hanya enam menit pertandingan berjalan, Rival A. Naya sudah membuka keunggulan PSF setelah memanfaatkan ruang kosong di pertahanan lawan.
Gol cepat tersebut menjadi awal tekanan PSF. Real Jakarta kesulitan membangun serangan dan lebih banyak bertahan menghadapi permainan cepat tuan rumah.
Menit ke-26, PSF kembali menemukan celah. Rizki A. Rapha melepaskan penyelesaian yang membawa PSF unggul 2-0 hingga turun minum.
Selepas jeda, PSF tidak mengendurkan tekanan. Nathaniel AA, pemain baru yang berdarah Inggris-Surabaya, langsung menunjukkan kontribusinya setelah dipercaya tampil. Pada menit ke-35, Nathaniel mencetak gol melalui sundulan untuk mengubah skor menjadi 3-0.
Dua menit kemudian, Rizki kembali mencatatkan namanya di papan skor. Gol keduanya membuat PSF semakin jauh meninggalkan Real Jakarta dengan skor 4-0.
Pesta gol PSF kemudian ditutup kapten tim, Rakha Saudana. Gol kelima sekaligus memastikan Real Jakarta pulang dengan kekalahan telak.
Menariknya, kemenangan besar tersebut masih menyisakan catatan bagi PSF. Sejumlah peluang emas sebenarnya bisa menambah keunggulan, namun para pemain depan terlalu terburu-buru ketika melakukan finishing.
Direktur Teknik PSF Ibnu Grahan mengatakan kemenangan bukan satu-satunya tujuan timnya dalam kompetisi tersebut. PSF juga memanfaatkan pertandingan untuk menguji pemain dan memberikan pengalaman kompetitif kepada pemain yang baru masuk skuad.
Dalam laga itu, PSF melakukan rotasi dan memberikan kesempatan kepada empat pemain yang baru didaftarkan untuk tampil di Piala Soeratin.
“Rotasi ini untuk membiasakan anak-anak ikut kompetisi menuju jenjang kompetisi berikutnya”, tandas Ibnu.
Menurutnya, kompetisi seperti Piala Soeratin sangat penting bagi proses pembinaan karena pemain tidak hanya berlatih, tetapi juga menghadapi situasi pertandingan yang sesungguhnya.
“Menang kalah itu hal yang biasa. Yang penting anak-anak mendapat kesempatan bermain di kompetisi yang padat seperti ini”, tandasnya.
Di kubu Real Jakarta, kekalahan lima gol tanpa balas tidak lantas dianggap sebagai akhir dari proses. Pelatih Real Jakarta menyebut timnya memang tidak tampil dengan kekuatan terbaik karena sejumlah pemain inti harus mengikuti kegiatan sekolah.
“Kami harus mengalah demi pendidikan anak asuhnya”, ucapnya.
Absennya beberapa pemain inti semakin terasa karena Real Jakarta juga masih mencari bentuk permainan. Perpaduan pemain lama dan baru belum sepenuhnya menghasilkan chemistry yang diharapkan.
Meski begitu, sang pelatih menilai anak asuhnya tetap menunjukkan semangat juang. Mereka terus mencoba memberikan perlawanan meski tertinggal jauh dari PSF.
“Chemistry ini akan terus kita tingkatkan dalam latihan”, ungkapnya.
Baginya, Piala Soeratin bukan sekadar soal mengejar kemenangan. Kompetisi menjadi ruang untuk membentuk karakter pemain, meningkatkan teknik, sekaligus mempersiapkan mental menghadapi hasil pertandingan.
“Kami menjaga mental anak-anak agar jangan kendor latihan. Kami juga sedang membenahi pemain dan mereka sedang mencari keseimbangan antara kewajiban sekolah dan kewajiban latihan”, katanya.
Kemenangan besar PSF pun memperlihatkan bahwa kompetisi usia muda bukan hanya soal siapa yang menang dan siapa yang kalah. Di satu sisi, PSF terus menguji kedalaman skuad melalui rotasi. Di sisi lain, Real Jakarta harus menjadikan kekalahan tersebut sebagai bahan evaluasi untuk membangun tim yang lebih solid.


