YOGYAKARTA|MEB.COM — Ribuan pamong kalurahan dari seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memadati jalan utama Kota Yogyakarta dalam kirab budaya Mangayubagya Yuswa Dalem ke-80 Sri Sultan Hamengku Buwono X. Kegiatan ini menjadi salah satu agenda budaya terbesar yang sarat nilai tradisi, kebersamaan, dan gotong royong.
Sejak pagi, sekitar 12 ribu pamong dari Kota Yogyakarta, Sleman, Bantul, Kulon Progo, hingga Gunungkidul berjalan beriringan membawa berbagai hasil bumi, jajanan tradisional, serta produk UMKM. Seluruh persembahan tersebut dikemas dalam simbol glondong pengarem-arem sebagai wujud rasa hormat dan bakti kepada Sri Sultan.
Sepanjang rute kirab dari kawasan Malioboro hingga Pagelaran Keraton Yogyakarta, masyarakat tampak antusias menyaksikan jalannya prosesi. Ribuan warga memadati sisi jalan untuk melihat langsung arak-arakan budaya yang berlangsung tertib dan penuh khidmat.
Memasuki kompleks Keraton Yogyakarta, suasana berubah menjadi lebih hening dan sakral. Para peserta kirab secara bergiliran menyampaikan persembahan sesuai tata adat yang telah diwariskan secara turun-temurun. Sejumlah pejabat negara, termasuk Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, turut hadir menyaksikan prosesi tersebut.
Momen penting terjadi ketika Sri Sultan Hamengku Buwono X memutuskan untuk mengembalikan seluruh glondong pengarem-arem yang telah diterima kepada masyarakat melalui para bupati dan wali kota se-DIY. Langkah ini dimaknai sebagai bentuk pemerataan manfaat dari hasil bumi yang dibawa para peserta kirab.
“Semua ini saya kembalikan kepada masyarakat agar dapat dibagikan secara merata dan bermanfaat,” ujar Sri Sultan dalam kesempatan tersebut.
Ketua Umum Paguyuban Lurah dan Pamong Kalurahan Nayantaka DIY, Gandang Hardjanata, menjelaskan bahwa setiap daerah membawa hasil bumi sesuai potensi wilayah masing-masing. Tradisi ini, kata dia, juga menjadi simbol kebersamaan antara pemerintah kalurahan dan Keraton Yogyakarta.
Usai prosesi di Keraton, penyerahan simbolik dilanjutkan melalui lima putri Sri Sultan kepada para kepala daerah masing-masing kabupaten/kota di DIY. Selanjutnya, hasil bumi tersebut akan didistribusikan kepada masyarakat.
Di luar keraton, suasana kebersamaan juga terasa hangat. Warga, pelajar, hingga wisatawan menikmati kirab sambil berinteraksi dalam suasana guyub. Banyak yang mengapresiasi kegiatan ini sebagai sarana pelestarian budaya sekaligus ruang edukasi bagi generasi muda.
Kirab Mangayubagya Yuswa Dalem ke-80 ini tidak hanya menjadi perayaan ulang tahun Sri Sultan Hamengku Buwono X, tetapi juga memperkuat makna hubungan antara pemimpin dan rakyat dalam bingkai budaya dan tradisi Yogyakarta.|Vitus*


