Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, Dunia Terancam Krisis Energi Baru

TIMUR TENGAH|MEB.COM – Ketegangan global kembali mencapai titik panas. Iran secara mengejutkan kembali menutup Selat Hormuz jalur vital yang menjadi nadi perdagangan minyak dunia setelah sebelumnya sempat dibuka untuk kapal komersial. Keputusan keras ini dipicu tudingan bahwa Amerika Serikat melanggar komitmen dengan tetap memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran.

Pernyataan tegas datang dari Markas Pusat Khatam Al-Anbiya yang menegaskan bahwa pengawasan ketat kembali diberlakukan di kawasan strategis tersebut. Iran tak lagi memberi ruang kompromi: selama blokade masih berlangsung, Selat Hormuz tidak akan benar-benar aman dilintasi.

Langkah ini memperkeruh situasi yang sebelumnya sempat mereda usai gencatan senjata sementara di kawasan Timur Tengah. Namun pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menegaskan blokade tetap berjalan justru memicu reaksi keras dari Teheran.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, bahkan melontarkan pernyataan tajam: “Mustahil pihak lain bebas melintas sementara kami dibatasi.” Ia menyebut kebijakan AS sebagai langkah “naif” yang lahir dari ketidaktahuan, meski di saat yang sama Iran masih membuka pintu negosiasi.

Di lapangan, situasi semakin mencekam. Sejumlah kapal di Teluk Persia memilih menghentikan pelayaran setelah insiden penembakan terhadap kapal berbendera India. Ketakutan menyebar cepat kapal-kapal besar kini lebih memilih menunggu daripada mengambil risiko.

Padahal, Selat Hormuz bukan jalur biasa. Sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati perairan sempit ini. Gangguan kecil saja bisa mengguncang harga energi global dan kali ini ancamannya jauh lebih serius.

Sebelumnya, Iran sempat membuka akses penuh selama masa gencatan senjata 10 hari. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyebut pembukaan itu sebagai langkah goodwill. Namun peringatan sudah diberikan sejak awal: jika tekanan berlanjut, penutupan akan kembali diberlakukan dan kini itu benar-benar terjadi.

Saling blokade antara Washington dan Teheran kini menjadi batu sandungan besar bagi upaya mediasi internasional, termasuk yang dipimpin Pakistan. Waktu pun semakin sempit, karena gencatan senjata diperkirakan segera berakhir dalam hitungan hari.

Di balik konflik ini, isu besar lain masih membayangi: program nuklir Iran. AS ingin menghapus cadangan uranium Iran, sementara Teheran menolak mentah-mentah. Perbedaan tajam ini membuat peluang kesepakatan masih penuh tanda tanya.

Satu hal yang pasti: dunia kini menahan napas. Jika eskalasi terus berlanjut, bukan hanya kawasan Timur Tengah yang terdampak krisis energi global bisa kembali menghantam, dengan efek domino ke seluruh penjuru dunia.***

Pos terkait