Varian Baru COVID-19 PQ.16.1.1 Melonjak di Pasifik Barat, Indonesia Diminta Waspada

Jakarta | Mediaerabaru.com – Varian baru COVID-19, PQ.16.1.1, mulai menjadi perhatian seiring meningkatnya kasus di kawasan Pasifik Barat. Meski hingga kini risiko kesehatan yang ditimbulkan masih tergolong rendah, perkembangan varian tersebut tetap perlu dipantau secara seksama.

Guru Besar sekaligus pakar kesehatan Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan, ada sejumlah alasan mengapa PQ.16.1.1 perlu mendapat perhatian. Salah satunya adalah keputusan WHO Technical Advisory Group on Virus Evolution (TAG-VE) pada Juli 2026 yang menetapkan PQ.16.1.1 sebagai Variant Under Monitoring (VUM).

Menurut Tjandra, VUM merupakan klasifikasi terendah dalam pemantauan varian SARS-CoV-2 oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Namun, bukan berarti varian tersebut dapat diabaikan.

“VUM memang klasifikasi yang paling bawah, tapi kalau tidak tertangani dengan baik maka bisa saja berkembang menjadi klasifikasi di atasnya seperti VOI”, kilahnya.

Ia menjelaskan, PQ.16.1.1 merupakan turunan dari varian NB.1.8.1. Kemunculan turunan baru tersebut kembali menunjukkan bahwa virus SARS-CoV-2 masih terus mengalami mutasi.

Karena itu, menurutnya, perkembangan varian COVID-19 tetap perlu diikuti, terutama melihat peningkatan kasus yang terjadi di kawasan Pasifik Barat, wilayah WHO yang juga mencakup Indonesia.

Data GISAID, lanjut Tjandra, menunjukkan sekitar 95,8 persen kasus PQ.16.1.1 yang tercatat di dunia berasal dari kawasan Pasifik Barat.

Kondisi tersebut menjadi semakin relevan bagi Indonesia karena salah satu negara dengan peningkatan kasus utama adalah Singapura. Sebagai negara tetangga dengan mobilitas penduduk yang tinggi dengan Indonesia, perkembangan COVID-19 di Singapura perlu menjadi perhatian.

“Setiap hari cukup banyak orang lalu lalang antara negara kita dan Singapura” ujar Tjandra.

Berdasarkan data dunia yang dikutipnya, sekitar 84,9 persen kasus PQ.16.1.1 dilaporkan dari Singapura.

Meski demikian, Tjandra meminta masyarakat tidak panik. Hingga saat ini, risiko kesehatan akibat PQ.16.1.1 masih tergolong rendah dan sebagian besar kasus yang ditemukan masih menunjukkan gejala ringan.

“Sejauh ini memang risiko kesehatan dari PQ.16.1.1 adalah rendah. Artinya sebagian besar kasusnya—sejauh ini—masih ringan” katanya.

Tjandra menegaskan, situasi tersebut tetap membutuhkan pemantauan dari waktu ke waktu. Perubahan karakteristik virus maupun pola penyebarannya perlu terus diperhatikan agar langkah pengendalian dapat dilakukan apabila terjadi peningkatan risiko.

“ Tentu kita perlu pantau keadaannya secara seksama dari waktu ke waktu” tegasnya.

Pos terkait