100 Band Pelajar Bersatu, Simon Martinus Ubah Rivalitas Jadi Persaudaraan

Tangerang Selatan | Mediaerabaru.com – Persaingan dalam kompetisi musik biasanya berakhir setelah pemenang diumumkan. Namun bagi Simon Martinus, pertemuan para band pelajar dalam berbagai kompetisi justru bisa menjadi awal dari sebuah persaudaraan, Minggu(13/09).

Berangkat dari pemikiran tersebut, Simon membangun sebuah wadah bagi band-band pelajar yang pernah bertemu dalam kompetisi musik. Komunitas yang awalnya hanya beranggotakan sekitar 10 band itu kini berkembang menjadi sekitar 100 band yang tersebar di berbagai wilayah Pulau Jawa.

Band-band tersebut berasal dari Bekasi, Depok, Tangerang, Serang hingga sejumlah daerah di Jawa Timur. Mereka datang dari berbagai genre musik dan mayoritas anggotanya masih berstatus pelajar.

Simon mengatakan, selama hampir dua tahun para anggota komunitas lebih banyak berkomunikasi melalui grup WhatsApp. Dari komunikasi tersebut muncul keinginan untuk mempertemukan mereka secara langsung dalam sebuah kegiatan yang bukan berorientasi pada menang atau kalah.

“Di kompetisi kita sudah sering bertemu. Yang ada biasanya persaingan. Saya berpikir bagaimana caranya membuat satu acara untuk mempersatukan band-band pelajar ini”, ungkapnya.

Ide itu kemudian diwujudkan melalui acara Senandung Rasa yang digelar di Flavor Bliss, Alam Sutera, Tangerang Selatan, 12 September 2026. Sebanyak 20 band tampil dalam acara perdana tersebut.

Jumlah peserta sengaja dibatasi meski antusiasme band yang ingin tampil cukup besar. Simon ingin acara perdana itu tetap menjadi ruang yang nyaman bagi para musisi muda untuk berkumpul, bertukar pengalaman sekaligus menunjukkan karya mereka.

Menurut Simon, keberadaan komunitas ini memberikan pengalaman berbeda bagi para band. Mereka tidak lagi melihat satu sama lain sebagai rival, melainkan sebagai teman yang bisa saling berbagi informasi dan pengalaman bermusik.

“Mereka bisa menyalurkan karya tanpa batas, mendapatkan banyak ilmu dan yang paling penting adalah kebersamaan,” katanya.

Ia juga menilai suasana seperti itu penting bagi musisi yang masih berusia pelajar. Selain menjadi tempat mengekspresikan diri, komunitas tersebut diharapkan dapat membuka wawasan mereka mengenai dunia musik sekaligus memperluas jaringan pertemanan.

Menariknya, hubungan antarpeserta tidak berhenti di atas panggung. Simon melihat sendiri bagaimana band-band yang sebelumnya bersaing dalam kompetisi justru bisa kembali akrab ketika berada dalam satu komunitas.

“Namanya kompetisi, persaingan dan perselisihan itu kadang ada. Tapi Alhamdulillah, di sini mereka bisa foto bersama lagi, bahkan saling berpelukan,” ujarnya.

Bagi Simon, momen tersebut menjadi bukti bahwa musik tidak harus selalu menjadi arena untuk mencari siapa yang terbaik. Musik juga bisa menjadi jembatan untuk mempertemukan orang-orang dengan latar belakang berbeda.

Karena itu, ia berharap Senandung Rasa tidak berhenti sebagai acara perdana. Simon bahkan menargetkan komunitas tersebut bisa berkembang dan suatu saat menggelar festival musik yang lebih besar dengan melibatkan lebih banyak band pelajar.

“Semoga ke depannya bisa terus berlanjut. Kalau memungkinkan, kami ingin membuat sebuah festival”, ujar Simon.

Dari kompetisi menuju kolaborasi. Itulah semangat yang ingin dibangun Simon bersama 100 band dalam komunitas tersebut. Bukan lagi soal siapa yang menang dan siapa yang kalah, tetapi bagaimana musik menjadi alasan untuk terus bertemu, berkarya dan menjaga persaudaraan.

Pos terkait