Bukan Sekadar Menang, Maesa Pararaider Tunjukkan Kekuatan Kolektivitas

Jakarta | Mediaerabaru.com – Skor 2-0 menjadi gambaran sederhana kemenangan Maesa Pararaider atas Bintang Ragunan pada pekan kesembilan Piala Soeratin U-15 Piala Gubernur. Namun di balik angka tersebut, ada permainan kolektif yang membuat Mahesa layak membawa pulang kemenangan dari Lapangan Sintetis 2 PSF, Pancoran, Jakarta Selatan, Sabtu (4/10).

Maesa tidak mengandalkan permainan individu. Sejak menit awal, para pemain tampil terorganisir dengan aliran bola yang berjalan dari satu pemain ke pemain lainnya. Tekanan dilakukan secara konsisten, sementara skema yang diberikan pelatih mampu diterapkan dengan baik di lapangan.

Situasi berbeda terlihat di kubu Bintang Ragunan. Mereka lebih banyak berada dalam tekanan dan beberapa kali memilih membuang bola untuk menghindari ancaman di area pertahanan sendiri. Akibatnya, Bintang Ragunan kesulitan membangun serangan dan permainan satu-dua yang seharusnya bisa menjadi jalan keluar dari tekanan hampir tidak terlihat.

Maesa akhirnya menemukan celah pada menit ke-32. Berawal dari tendangan penjuru, bola mengarah ke dalam kotak penalti dan disambut Rado Al Ghifari dengan tandukan keras.

Bola meluncur ke gawang tanpa mampu dihentikan penjaga gawang Bintang Ragunan. Mahesa unggul 1-0.

Gol tersebut semakin membuat permainan Maesa terkontrol. Mereka tidak terburu-buru mengejar gol tambahan, tetapi tetap menjaga tekanan dan disiplin dalam menjalankan pola permainan.

Gol kedua akhirnya datang dari sisi kanan. Alfahrizi P. Ariyanto melepaskan tendangan yang mengarah ke tiang jauh dan kembali membuat kiper Bintang Ragunan tak berdaya. Skor 2-0 pun bertahan hingga pertandingan berakhir.

Pelatih Maesa Pararaider, Nughoro Bibit, menyambut positif kemenangan tersebut. Apalagi, anak asuhnya datang dengan kondisi jadwal pertandingan yang cukup padat.

“Sabtu kemarin mereka juga habis main, tapi kami bisa mendapatkan hasil yang positif,” ujar Nughoro.

Namun, menurutnya, kemenangan tersebut bukan berarti persoalan tim sudah selesai. Mahesa masih memiliki tantangan dalam membangun chemistry karena menerapkan sistem rotasi pemain dan pelatih.

Rotasi tersebut memang menjadi bagian dari pola pembinaan Maesa. Para pemain dibiasakan untuk mampu beradaptasi dengan karakter pelatih maupun rekan setim yang berbeda.

“Sedikit sulit membangun chemistry antar pemain dan juga pemain dengan pelatih. Kami memang biasa me-rolling pelatih dan pemain,” katanya.

Nughoro menilai pola tersebut penting untuk membentuk pemain yang tidak bergantung pada satu figur pelatih. Di sisi lain, konsekuensinya adalah tim membutuhkan waktu untuk membangun kekompakan setiap kali terjadi perubahan komposisi.

Di kubu Bintang Ragunan, pelatih Abu Bakar melihat sisi positif meski timnya harus mengakui keunggulan Mahesa. Ia menilai para pemainnya sudah mampu bermain lebih lepas dibanding sejumlah pertandingan sebelumnya.

“Kami bermain lepas. Buktinya lawan baru bisa memasukkan bola di babak kedua”, ungkap Abu Bakar.

Menurutnya, bermain lepas berarti pemain tidak panik ketika berada dalam tekanan. Salah satu instruksi yang diberikan adalah tidak membuang bola sembarangan yang justru bisa kembali dikuasai lawan.
“Kalau buang bola jangan sampai ke kaki lawan, tapi buang jauh”, ujarnya.

Abu Bakar juga mengungkapkan pandangannya mengenai penggunaan pemain dalam kompetisi usia muda. Ia menyebut ada tim yang memainkan pemain dari luar tim, sedangkan Bintang Ragunan lebih memilih mengandalkan pemain yang memang berlatih dan berkembang bersama timnya.

“Kami pemainnya memang pemain yang latihan di sini”, ucapnya.

Pertandingan tersebut pada akhirnya memperlihatkan dua sisi pembinaan sepak bola usia muda. Mahesa Pararaider menunjukkan bagaimana organisasi permainan dan penerapan skema bisa menjadi senjata utama untuk memenangkan pertandingan. Sementara Bintang Ragunan masih dituntut menemukan formula agar para pemainnya lebih berani membangun permainan ketika berada di bawah tekanan.

Dua gol Maesa memang menjadi pembeda di papan skor. Tetapi yang lebih terlihat di lapangan adalah bagaimana sebuah tim mampu bermain sebagai satu kesatuan.

Pos terkait