JAKARTA|MEB.COM – Aksi nekat seorang remaja di Kabupaten Jember, Jawa Timur, mendadak menghebohkan publik setelah videonya viral di media sosial. Pelaku diduga menjalankan praktik peredaran uang palsu dengan cara licik memanfaatkan anak kecil sebagai “perantara” untuk berbelanja di warung kelontong.
Peristiwa yang terjadi di Desa Wirowongso, Kecamatan Ajung ini langsung menyulut emosi warga. Dalam rekaman amatir yang beredar, terlihat situasi memanas saat pelaku akhirnya diamankan secara beramai-ramai oleh warga yang sudah lama resah dengan aksinya.
Modus yang digunakan terbilang cerdik namun berisiko. Pelaku datang menggunakan sepeda motor, lalu menyuruh anak kecil membeli barang di warung menggunakan uang yang diduga palsu. Cara ini dilakukan agar dirinya tidak berhadapan langsung dengan pemilik warung. Namun, rencana tersebut gagal total.
Kecurigaan muncul saat pemilik warung memeriksa uang yang digunakan dalam transaksi. Ketelitian sang pemilik menjadi kunci terbongkarnya aksi tersebut. Setelah ditanya, anak yang berbelanja mengaku hanya disuruh oleh pelaku. Seketika, warga yang mengetahui hal itu langsung bergerak cepat menangkap pelaku.
“Sudah meresahkan. Dia sering menyuruh anak kecil untuk belanja,” ujar Adi, warga setempat, menggambarkan keresahan yang selama ini dirasakan masyarakat.
Kapolsek Ajung, AKP Rozzi, membenarkan kejadian tersebut. Ia mengungkapkan bahwa peristiwa itu terjadi pada Senin (6/4/2026) sekitar pukul 12.20 WIB. Polisi yang menerima laporan langsung bergerak ke lokasi dan mengamankan pelaku berinisial S beserta barang bukti berupa uang palsu berbagai nominal, sepeda motor, dan handphone.
Meski sempat diamankan selama hampir 20 jam, pelaku tidak ditahan. Polisi menyebut belum terjadi transaksi jual beli sehingga kasus ini lebih mengarah pada pembinaan. Pelaku mengaku hanya “iseng” melakukan aksinya.
“Kami lakukan pembinaan agar tidak mengulangi perbuatannya, termasuk kepada pihak keluarga,” jelas Rozzi.
Meski demikian, polisi masih mendalami kemungkinan adanya jaringan di balik peredaran uang palsu tersebut. Masyarakat pun diimbau untuk lebih waspada dan teliti saat menerima uang, terutama dalam transaksi kecil di warung.
Kejadian ini menjadi peringatan keras bahwa kejahatan bisa terjadi dengan cara tak terduga bahkan dengan melibatkan anak-anak sebagai alat. Waspada dan kepedulian warga terbukti menjadi benteng pertama dalam menggagalkan aksi kriminal di lingkungan sekitar.***
**


