MAKASSAR|MEB.COM – Jagat media sosial kembali diguncang oleh beredarnya video mengejutkan yang memperlihatkan sekelompok pria diduga di Makassar tengah mengonsumsi cairan yang disebut-sebut sebagai oli mesin 2-tak. Aksi tidak biasa itu langsung viral dan menuai kecaman luas dari publik karena dianggap berbahaya bagi kesehatan.
Dalam rekaman berdurasi hampir tiga menit tersebut, terlihat sekitar lima pria duduk melingkar. Salah satu di antaranya membuka botol oli menggunakan tang, lalu menuangkannya ke wadah kecil sebelum diminum secara bergiliran oleh peserta lain. Aksi itu bahkan disertai klaim bahwa cairan tersebut dapat meningkatkan stamina dan meredakan berbagai keluhan tubuh.
Narasi yang menyertai video tersebut menyebutkan bahwa konsumsi oli dianggap “terapi alternatif” yang diyakini mampu membuat tubuh lebih kuat. Namun klaim ini langsung dibantah keras oleh tenaga medis. Dokter spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Hermina Makassar menegaskan bahwa tidak ada satu pun dasar ilmiah yang membenarkan konsumsi oli sebagai pengobatan.
Menurut penjelasan medis, oli mesin mengandung hidrokarbon serta berbagai zat aditif berbahaya, termasuk senyawa kimia dan logam berat yang tidak diperuntukkan bagi tubuh manusia. Konsumsi zat tersebut berisiko menimbulkan keracunan serius hingga kerusakan organ dalam jangka panjang.
Pernyataan tegas juga datang dari Majelis Ulama Indonesia Sulawesi Selatan. Pihak MUI menegaskan bahwa tindakan meminum oli adalah perbuatan yang diharamkan karena jelas membahayakan kesehatan dan tidak sesuai dengan kaidah keselamatan jiwa manusia. Mereka juga mengingatkan agar konten seperti ini tidak ditiru atau disebarkan sebagai contoh yang keliru.
Sementara itu, Dinas Kesehatan setempat dilaporkan telah menurunkan tim untuk menelusuri dan memantau para pelaku yang terlibat dalam video viral tersebut. Petugas juga mengerahkan tenaga puskesmas untuk melakukan pemantauan langsung guna mengantisipasi dampak kesehatan lebih lanjut di masyarakat.
Viralnya video ini memicu gelombang reaksi keras warganet yang mengecam tindakan tersebut sebagai berbahaya dan menyesatkan. Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya pada klaim kesehatan tanpa dasar medis, terutama yang beredar di media sosial tanpa verifikasi ilmiah.


