Butet Kartaredjasa Bawa Budaya Jawa ke Vatikan, Serahkan 14 Lukisan Jalan Salib ke Paus Leo XIV

VATIKAN|mediaerabaru.com– Seniman dan budayawan Indonesia, Butet Kartaredjasa, kembali mengharumkan nama bangsa di kancah internasional setelah menyerahkan 14 lukisan kaca bertema “Jalan Salib” bernuansa budaya Jawa kepada Paus Leo XIV di Vatikan. Karya tersebut menjadi simbol kuat dialog lintas iman dan budaya antara tradisi Katolik dan kearifan lokal Nusantara.

Penyerahan karya seni itu berlangsung dalam audiensi resmi di Vatikan pada 17 Juni 2026, yang turut difasilitasi Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Takhta Suci. Dalam momen tersebut, Butet secara simbolis menyerahkan salah satu bagian lukisan dari rangkaian 14 stasi Jalan Salib yang ia ciptakan.

Karya tersebut menampilkan reinterpretasi unik: tokoh pewayangan Jawa, khususnya Punakawan seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong, digunakan untuk menggambarkan kisah perjalanan sengsara Yesus dalam tradisi Jalan Salib. Semar bahkan diinterpretasikan sebagai figur Yesus dalam tafsir artistik tersebut.

Butet menjelaskan bahwa gagasan ini lahir dari semangat pluralisme. Ia ingin menjembatani nilai spiritual Katolik dengan filosofi Jawa seperti ojo dumeh dan eling sangkan paraning dumadi agar lebih mudah dipahami masyarakat luas.

Menurut sejumlah laporan media Indonesia, Paus Leo XIV menyambut hangat karya tersebut dan memberikan apresiasi terhadap keberanian seniman Indonesia yang menghadirkan interpretasi budaya lokal dalam konteks religius universal.

Sementara itu, media lokal Yogyakarta dan Harian Jogja menyoroti bahwa dari total 14 lukisan, Butet memilih satu bagian spesifik (Stasi ke-9) untuk diserahkan langsung kepada Paus karena dinilai memiliki komposisi paling lengkap dalam menampilkan seluruh tokoh Punakawan.

Laporan media sosial KBRI Takhta Suci Vatikan dan sejumlah kanal internasional juga menegaskan bahwa karya ini menjadi bagian dari diplomasi budaya Indonesia, yang memperkuat posisi seni Nusantara di panggung global.

Peristiwa ini menegaskan bahwa seni rupa tidak hanya menjadi ekspresi estetika, tetapi juga jembatan nilai kemanusiaan lintas agama, bangsa, dan tradisi sejalan dengan semangat kebudayaan Indonesia yang majemuk.***

Pos terkait