Jakarta | Mediaerabaru.com – Pertanyaan sederhana dari anak-anak tentang siapa superhero Indonesia justru menjadi pintu masuk lahirnya sebuah pertunjukan seni yang sarat pesan kebangsaan.
Pertanyaan itu menginspirasi Marcella Zalianty untuk menghidupkan kembali kisah para tokoh bangsa melalui panggung Bakti Seniman Nusantara “Meradjoet Sendja – Persembahan Cinta Untuk Republik” di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Pasar Baru, Jakarta Pusat.
Pertunjukan orkestra kebangsaan persembahan Keana Productions ini digelar melalui kolaborasi PARFI’56 bersama Dompet Dhuafa sebagai bentuk apresiasi terhadap para seniman dan pelaku budaya Indonesia.
Marcella yang bertindak sebagai produser eksekutif melihat ada persoalan yang lebih besar dari sekadar minimnya pengetahuan generasi muda terhadap sejarah.
Menurutnya, anak-anak saat ini sangat mudah mengenal Superman atau Spiderman, tetapi belum tentu mengenal tokoh-tokoh bangsa yang memiliki perjuangan dan pemikiran luar biasa.
“Saya punya anak dan mereka suka nonton film Hollywood seperti Superman, Spiderman. Lalu mereka bertanya, kok tidak ada superhero Indonesia?” kata Marcella.
Pertanyaan tersebut kemudian dijawab dengan cara yang berbeda. Indonesia, menurut Marcella, sebenarnya memiliki banyak “superhero”, hanya saja mereka berasal dari perjalanan panjang sejarah bangsa.
Nama-nama seperti Soekarno, Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir memang cukup dikenal. Namun, masih banyak tokoh lain yang pemikirannya belum cukup dekat dengan generasi muda. Termasuk Tan Malaka serta sejumlah tokoh perempuan seperti Malahayati dan Ratu Shima.
Marcella menilai perjuangan para tokoh perempuan juga penting diangkat karena kontribusi terhadap bangsa tidak selalu dilakukan melalui perjuangan fisik. Pemikiran dan gagasan mereka turut memberikan dampak besar terhadap perjalanan Indonesia.
“Pahlawan-pahlawan itu tidak hanya berjuang secara fisik, tetapi juga lewat pikiran-pikiran mereka. Mungkin kita membutuhkan figur seperti Malahayati dan Ratu Shima untuk generasi saat ini,” ujarnya.
Karena itulah, seni dipilih sebagai medium untuk memperkenalkan kembali tokoh-tokoh tersebut. Kisah sejarah yang biasanya hadir dalam buku diterjemahkan menjadi pertunjukan yang memadukan akting, narasi dan musik sehingga pesan yang disampaikan diharapkan lebih mudah dirasakan penonton.
Konsep tersebut kemudian dirajut Olivia Zalianty selaku sutradara sekaligus produser. Ia mengatakan judul Meradjoet Sendja lahir setelah melalui proses panjang sebelum akhirnya dianggap mampu mewakili keseluruhan gagasan pertunjukan.
“Merajut itu adalah mengumpulkan kepingan-kepingan pikiran. Ide ini muncul dari pemikiran Sjahrir, kemudian saya kembangkan. Lalu kami gabungkan dengan lagu hingga menjadi pementasan ini,” kata Olivia.
Bagi Olivia, kata “merajut” menggambarkan kumpulan pemikiran para pahlawan yang sejak jauh sebelum Indonesia merdeka telah membayangkan sebuah bangsa bernama Indonesia.
Sementara kata “sendja” menjadi simbol peralihan. Senja bukanlah akhir, melainkan sebuah fase menuju sesuatu yang baru.
“Sendja artinya peralihan, bukan akhir dari merajut. Tetapi untuk terus merdeka seperti yang kita rasakan saat ini,” ujarnya.
Pesan tersebut kemudian diterjemahkan ke atas panggung melalui penampilan Marcella Zalianty, Arswendy Bening Swara, Lutfi Ardiansyah, Edopaha, Tanta Ginting, Isyana Sarasvati, Fryda Lucyana, Jane Callista, Shanna Shannon dan Ridho Rokhanah.
Lewat “Meradjoet Sendja”, sejarah tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang jauh dan kaku. Para tokoh bangsa justru dihadirkan sebagai sumber inspirasi bagi generasi masa kini—bahwa sebelum dunia mengenal superhero dalam layar lebar, Indonesia telah memiliki para pejuang yang mewariskan gagasan, keberanian dan cinta terhadap republik.
Sebab, merawat kemerdekaan bukan hanya tentang mengingat bagaimana bangsa ini berdiri, tetapi juga memahami pemikiran mereka yang sejak awal telah membayangkan Indonesia yang merdeka.


