Jakarta | Mediaerabaru.com – Mereka berdiri di garis depan saat api melahap hutan. Panas menyengat, asap mengepul, medan berat, dan ancaman kecelakaan menjadi bagian dari risiko yang harus dihadapi. Namun, ketika petugas pemadam kebakaran hutan gugur saat menjalankan tugas, muncul pertanyaan penting: sudahkah kesehatan dan keselamatan mereka mendapat perlindungan maksimal?
Meninggalnya sejumlah petugas pemadam kebakaran hutan di kawasan Bromo, Jawa Timur, menjadi pengingat bahwa perjuangan memadamkan api tidak boleh mengabaikan keselamatan manusia. Sebelumnya, kabar wafatnya petugas pemadam kebakaran hutan di Kalimantan juga menjadi perhatian.
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Prof Tjandra Yoga Aditama, menekankan bahwa perlindungan terhadap petugas pemadam kebakaran hutan harus dilakukan sejak sebelum mereka diterjunkan ke lapangan, selama menjalankan tugas, hingga ketika membutuhkan pertolongan medis.
Menurut Tjandra, setidaknya ada lima hal penting yang harus menjadi perhatian.
Pertama, memastikan kondisi kesehatan petugas sebelum mereka ditetapkan untuk menjalankan tugas berisiko tinggi. Pemeriksaan kesehatan menyeluruh diperlukan untuk mengetahui kesiapan fisik serta mengidentifikasi faktor risiko yang dapat meningkatkan bahaya ketika bekerja di tengah kebakaran.
Kedua, pemeriksaan kesehatan harus menjadi bagian dari rutinitas sebelum bertugas. Petugas yang dinyatakan sehat saat pemeriksaan awal belum tentu selalu berada dalam kondisi prima setiap hari. Karena itu, penilaian kondisi umum, tekanan darah, dan denyut nadi dapat membantu mengidentifikasi petugas yang sedang tidak fit dan perlu beristirahat.
Ketiga, menyediakan alat pelindung diri yang sesuai dengan risiko di lapangan. Paparan asap kebakaran dapat membahayakan sistem pernapasan, sehingga masker bedah biasa tidak dapat dianggap sebagai perlindungan yang memadai. Respirator dengan filter yang sesuai, termasuk N95 apabila cocok dengan jenis paparannya, perlu dipertimbangkan sebagai bagian dari perlindungan pernapasan.
Kebutuhan gizi, air minum, dan energi juga harus terpenuhi. Petugas membutuhkan kondisi fisik yang memadai untuk menghadapi pekerjaan berat dalam lingkungan yang panas dan penuh tantangan.
Keempat, mengatur jam kerja dan waktu istirahat secara disiplin. Kelelahan berlebihan dapat menurunkan konsentrasi, memperlambat reaksi, dan meningkatkan risiko kecelakaan. Karena itu, pembagian giliran kerja dan pemantauan kondisi fisik harus menjadi bagian penting dari pengamanan petugas.
Kelima, memastikan prosedur keselamatan di lapangan berjalan dengan baik. Ancaman tidak hanya datang dari kobaran api dan asap, tetapi juga dari pohon yang roboh, ranting yang patah, medan yang sulit, serta kemungkinan kecelakaan lainnya. Petugas membutuhkan perencanaan kerja, perlengkapan keselamatan, komunikasi, dan prosedur evakuasi yang jelas.
Perlindungan tidak boleh berhenti pada pencegahan. Jika petugas mengalami gangguan kesehatan atau cedera, pertolongan medis harus diberikan secepatnya. Apabila fasilitas kesehatan terdekat tidak mampu menangani kondisinya, petugas perlu segera dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas yang lebih lengkap.
Dukungan transportasi medis pun harus disiapkan sesuai kebutuhan dan tingkat kegawatan. Dalam kondisi tertentu, ketika akses darat tidak memungkinkan atau terlalu berisiko, penggunaan helikopter dapat dipertimbangkan untuk mempercepat evakuasi.
Bagi Tjandra, petugas pemadam kebakaran hutan merupakan pahlawan yang berjuang langsung di lapangan. Mereka mempertaruhkan keselamatan demi melindungi masyarakat dan lingkungan dari ancaman kebakaran.
Karena itu, pengorbanan mereka harus dibalas dengan perlindungan yang nyata, bukan sekadar ucapan terima kasih. Pemeriksaan kesehatan, alat pelindung diri, pengaturan waktu kerja, prosedur keselamatan, hingga pelayanan medis yang memadai harus menjadi satu kesatuan dalam sistem perlindungan petugas.
Mantan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan serta mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara itu mengingatkan bahwa petugas yang berjibaku di lapangan harus mendapatkan perlindungan dan pelayanan maksimal.
Pada akhirnya, keberhasilan memadamkan kebakaran hutan tidak semestinya hanya diukur dari luas lahan yang berhasil diselamatkan atau cepatnya api dipadamkan. Ada keselamatan manusia yang juga harus menjadi prioritas.
Sebab, pahlawan yang berjuang menyelamatkan hutan juga berhak pulang dengan selamat.


