Jakarta | Mediaerabaru.com – Usia 70 tahun bukan halangan untuk tetap aktif dan menjaga kebugaran. Prof Tjandra Yoga Aditama, Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas YARSI, membuktikannya dengan rutin bersepeda sejauh 30 kilometer setiap Minggu.
Kebiasaan itu kembali dilakukannya saat mengikuti rangkaian peringatan ulang tahun ke-59 Universitas YARSI melalui kegiatan Fun Walk di kawasan Car Free Day (CFD) Jakarta. Alih-alih berjalan kaki bersama peserta lain, Prof Tjandra memilih mengayuh sepeda dari rumahnya di Cilandak menuju kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI).
Jarak dari rumah menuju lokasi kegiatan mencapai sekitar 15 kilometer. Dengan perjalanan pulang-pergi, total jarak yang ditempuhnya kurang lebih 30 kilometer.
Bagi Prof Tjandra, bersepeda bukan sekadar olahraga, melainkan bagian dari upaya menjaga kebugaran agar tetap aktif pada usia lanjut. Konsistensi menjadi kunci, tetapi olahraga juga harus dilakukan dengan memperhatikan kemampuan tubuh.
“Saya memang upayakan tiap hari Minggu bersepeda 30 km ini, bagian menjaga kebugaran untuk usia 70 tahun”, ujarnya.
Pilihan bersepeda juga sejalan dengan rekomendasi kesehatan bagi kelompok lanjut usia. National Institutes of Health (NIH) Amerika Serikat menyebutkan, bersepeda termasuk latihan low-impact atau olahraga yang relatif minim memberikan tekanan pada persendian.
Aktivitas ini dapat membantu menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah, meningkatkan mobilitas sendi, serta mendukung fungsi keseimbangan tubuh. Dibandingkan olahraga yang memberikan benturan lebih besar, bersepeda juga dapat menjadi pilihan yang lebih ramah bagi lutut dan pinggul.
National Seniors Australia turut menyoroti sejumlah manfaat bersepeda secara rutin. Selain membantu mengurangi risiko penyakit jantung, hipertensi, dan stroke, bersepeda dapat memperkuat otot serta membantu mempertahankan keseimbangan tubuh.
Manfaatnya tidak berhenti pada kesehatan fisik. Aktivitas bersepeda juga dapat memperbaiki suasana hati, membantu mengurangi stres, dan meredakan kecemasan. Dengan demikian, olahraga ini berpotensi mendukung kesehatan fisik sekaligus mental.
Namun, Prof Tjandra mengingatkan pentingnya keselamatan saat bersepeda, terutama bagi kelompok lanjut usia. Ia memilih mengayuh dengan santai dan tidak memaksakan kecepatan. Sikap ini menjadi pengingat bahwa tujuan utama olahraga adalah menjaga kesehatan, bukan mengejar kecepatan atau jarak semata.
Pesepeda lansia juga perlu menggunakan helm, memilih rute yang aman, memperhatikan kondisi lalu lintas, dan menyesuaikan intensitas latihan dengan kemampuan tubuh. Bagi mereka yang baru mulai berolahraga atau memiliki kondisi kesehatan tertentu, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu menentukan aktivitas yang sesuai.
Kebiasaan Prof Tjandra memberi pesan sederhana: bertambahnya usia bukan alasan untuk berhenti bergerak. Dengan aktivitas yang tepat, dilakukan secara rutin, dan tetap mengutamakan keselamatan, kebugaran dapat terus dijaga.
Di tengah peringatan ulang tahun ke-59 Universitas YARSI, perjalanan 30 kilometer itu menjadi gambaran bahwa hidup sehat tidak selalu membutuhkan cara yang rumit. Terkadang, langkahnya sederhana: meluangkan waktu, mengayuh sepeda, dan menjaga konsistensi.
Selamat bersepeda bagi kaum muda dan lanjut usia. Tetap aktif, tetap sehat, dan selalu utamakan keselamatan.


