Prof Tjandra Ingatkan Pandemi Baru, Mahasiswa Kedokteran Harus Siap Hadapi Tantangan Kesehatan Global

Jakarta | Mediaerabaru.com – Pandemi berikutnya bukan lagi sekadar kemungkinan yang bisa diabaikan. Secara ilmiah, dunia perlu bersiap menghadapi pandemi baru, meski waktu kemunculan dan penyakit penyebabnya belum dapat dipastikan. Kesiapan obat, vaksin, kerja sama internasional, hingga pemahaman tentang hubungan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan menjadi bekal penting menghadapi ancaman tersebut.

Pesan itu disampaikan Prof Tjandra Yoga Aditama dalam kuliah umum di hadapan lebih dari 250 mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI, beberapa waktu lalu.

Guru Besar Fakultas Kedokteran sejak 2008 tersebut mengajak para mahasiswa memahami bahwa tantangan dunia kedokteran tidak berhenti pada penanganan pasien. Calon dokter juga perlu memahami dinamika kesehatan global, termasuk ancaman pandemi, perkembangan penyakit menular, resistensi antimikroba, pemanfaatan kecerdasan buatan, dan perubahan iklim.

Menurut Tjandra, pengalaman menghadapi pandemi influenza H1N1 pada 2009 dan COVID-19 menunjukkan bahwa dunia masih memiliki pekerjaan besar dalam membangun kesiapsiagaan menghadapi krisis kesehatan.

Salah satu aspek penting yang disorot adalah ketersediaan obat dan vaksin, serta aturan kesehatan internasional yang memungkinkan negara-negara bekerja sama ketika pandemi terjadi. Dalam konteks ini, kesepakatan Pandemic Agreement menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapan global. Namun, pembahasan mengenai Pathogen Access and Benefit Sharing (PABS), yakni akses terhadap patogen dan pembagian manfaat yang dihasilkan, masih menjadi salah satu isu penting dalam kerja sama tersebut.

One Health dan Ancaman Penyakit Zoonosis

Selain kesiapsiagaan pandemi, Tjandra menekankan pentingnya pemahaman konsep One Health atau Satu Kesehatan. Konsep ini memandang kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan sebagai satu kesatuan yang saling berkaitan.

Bagi mahasiswa kedokteran, pemahaman tersebut semakin penting karena penyakit zoonosis, yakni penyakit yang dapat menular antara hewan dan manusia, menjadi salah satu ancaman yang perlu diwaspadai. Perubahan hubungan manusia dengan hewan dan lingkungan dapat memengaruhi munculnya serta penyebaran penyakit.

Karena itu, pendekatan kesehatan tidak cukup hanya berfokus pada manusia, tetapi juga perlu mempertimbangkan kondisi hewan dan lingkungan. Kolaborasi lintas disiplin menjadi salah satu kunci untuk mendeteksi dan mengantisipasi ancaman penyakit sejak dini.

Lima Tantangan Kesehatan Dunia
Dalam kuliah tersebut, Tjandra juga menguraikan lima tantangan utama kesehatan global. Pertama, penyakit menular, terutama penyakit yang baru muncul (emerging diseases) maupun penyakit yang kembali merebak (reemerging diseases).

Kedua, penyakit tidak menular yang terus menjadi persoalan kesehatan masyarakat di berbagai negara. Ketiga, resistensi antimikroba atau antimicrobial resistance (AMR), yang kerap disebut sebagai pandemi senyap karena mengurangi efektivitas obat antimikroba dan dapat membuat infeksi lebih sulit ditangani.

Tantangan keempat adalah perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), yang membuka peluang baru dalam pelayanan dan pengembangan ilmu kesehatan, sekaligus menuntut pemahaman serta pemanfaatan yang tepat.

Sementara itu, tantangan kelima adalah perubahan iklim yang berdampak luas terhadap kesehatan manusia. Di Indonesia, salah satu persoalan lingkungan yang menjadi perhatian adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yang menurut Tjandra telah berlangsung lebih dari tiga bulan saat ia menyampaikan kuliah tersebut.

Berbagai tantangan itu menunjukkan bahwa tenaga kesehatan masa depan perlu memiliki wawasan luas, tidak hanya mengenai penyakit dan pengobatan, tetapi juga faktor lingkungan, perkembangan teknologi, serta kebijakan kesehatan.

Berkarier di WHO, Mengabdi untuk Dunia

Hal lain yang diperkenalkan Tjandra kepada mahasiswa adalah struktur Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO). Organisasi ini memiliki kantor pusat di Jenewa, Swiss, jaringan enam kantor regional yang masing-masing dipimpin direktur regional, serta kantor di negara-negara anggotanya.

Pengenalan tersebut sekaligus menjadi kesempatan bagi Tjandra untuk mendorong mahasiswa mempertimbangkan WHO sebagai salah satu pilihan karier setelah menyelesaikan pendidikan kedokteran.

Menurut dia, lulusan fakultas kedokteran memiliki kesempatan untuk mengembangkan pengabdian melalui berbagai jalur, baik dengan bekerja di Indonesia maupun berkontribusi dalam organisasi kesehatan internasional.

Tjandra mengaku selalu bersemangat ketika bertemu mahasiswa. Antusiasme, kemampuan memahami materi, hingga celetukan khas mahasiswa menjadi bagian menarik dari kegiatan akademik tersebut.

Namun, lebih dari sekadar berbagi pengetahuan, kuliah umum itu membawa pesan tentang tanggung jawab generasi dokter mendatang. Mereka dituntut mampu menghadapi perubahan tantangan kesehatan, memahami persoalan lintas negara, serta berkontribusi dalam melindungi kesehatan masyarakat.

Pada akhirnya, pengabdian seorang dokter tidak hanya ditentukan oleh tempatnya bekerja. Dengan bekal ilmu, kepedulian, dan wawasan global, lulusan kedokteran dapat mengambil peran dalam meningkatkan derajat kesehatan manusia, baik di Indonesia maupun di dunia.

Pos terkait