KOTA SEMARANG|MEB.COM — Jagat media sosial dibuat geger oleh video tumpahan sampah yang mendadak menguasai jalan utama kota. Dalam hitungan menit, ruas jalan di kawasan Sultan Agung hingga Papandayan berubah jadi pemandangan yang bikin geleng kepala: sampah berserakan, bau menyengat, dan arus lalu lintas terganggu.
Peristiwa ini disebut terjadi di wilayah Candisari, tepatnya dekat simpang pos polisi hingga kawasan Grand Edge Papandayan. Dalam rekaman yang viral, terlihat tumpukan sampah menguasai setengah badan jalan—memicu kemarahan warganet yang menilai kejadian ini sebagai bentuk kelalaian fatal.
Akun Instagram @dinaskegelapan_kotasemarang menjadi pemantik viralnya insiden ini. Narasi yang beredar bahkan menyebut sopir truk diduga meninggalkan lokasi tanpa tanggung jawab, membuat kondisi makin semrawut dan meresahkan pengguna jalan.
Namun, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang angkat bicara dan membalikkan persepsi publik. Kepala DLH, Glory Nasarani, menegaskan bahwa pihaknya langsung bergerak cepat begitu laporan diterima.
“Penanganan dilakukan sigap. Tidak sampai satu jam, lokasi sudah bersih total,” tegas Glory, Rabu (25/3/2026).
Hasil penelusuran DLH melalui rekaman CCTV mengungkap fakta berbeda. Tumpahan sampah ternyata berasal dari truk pengangkut milik DLH yang melaju dari TPS Pasar Jangli menuju TPA. Dalam kondisi tekanan kerja tinggi, sopir disebut memacu kendaraan hingga hampir 60 km/jam melewati batas aman 40 km/jam.
Kecepatan tinggi itulah yang diduga membuat muatan tidak stabil hingga akhirnya tumpah di jalan. Sopir diketahui tengah mengejar jadwal pengangkutan di beberapa titik dengan volume sampah yang meningkat.
Meski begitu, DLH tidak tinggal diam. Petugas langsung diterjunkan untuk melakukan penanganan darurat: menyapu sampah ke pinggir jalan sambil menunggu armada tambahan. Begitu bantuan datang, proses pengangkutan dilakukan cepat hingga area kembali bersih sekitar pukul 13.00 WIB.
DLH juga menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada masyarakat atas insiden yang dinilai merusak kenyamanan publik tersebut.
“Kami bertanggung jawab. Ini menjadi evaluasi serius bagi kami,” ujar Glory.
Sebagai langkah tegas, sopir truk yang terlibat telah dipanggil dan diperiksa. Meski dikenal memiliki rekam jejak baik, sanksi tetap dijatuhkan berupa teguran lisan dan tertulis. DLH bahkan membuka kemungkinan sanksi lebih berat jika kejadian serupa terulang.
Di sisi lain, DLH mengakui sempat mengalami kendala dalam mengidentifikasi detail awal kejadian, termasuk nomor kendaraan dan identitas pengemudi. Informasi pertama justru datang dari petugas lapangan yang kebetulan melintas dan menemukan kondisi sampah sudah berserakan.
Kini, insiden ini menjadi sorotan tajam publik sekaligus alarm keras bagi sistem pengelolaan sampah di perkotaan.***


