JAKARTA|MEB.COM – Keputusan mengejutkan datang dari lingkaran pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Direktur Intelijen Nasional AS, Tulsi Gabbard, resmi mengundurkan diri pada Jumat (22/5) waktu setempat. Langkah mendadak itu langsung memicu spekulasi politik di Washington, terutama terkait isu ketegangan antara Gabbard dan Trump mengenai kebijakan perang AS bersama Israel terhadap Iran.
Secara resmi, Gabbard menyatakan pengunduran dirinya dilakukan karena alasan keluarga. Dalam surat yang diunggah melalui media sosial X, mantan anggota Kongres dari Partai Demokrat tersebut mengaku ingin fokus mendampingi sang suami, Abraham Williams, yang disebut tengah berjuang melawan kanker tulang langka. Pengunduran diri itu akan efektif berlaku mulai 30 Juni mendatang setelah sebelumnya disampaikan langsung kepada Trump di Ruang Oval Gedung Putih.
Meski demikian, rumor politik langsung berkembang luas. Sejumlah sumber di Washington menyebut hubungan Gabbard dengan Trump telah lama memanas, terutama sejak konflik Iran kembali menjadi perhatian utama Gedung Putih. Pemerintah AS buru-buru membantah kabar tersebut dan menegaskan keputusan itu sepenuhnya bersifat pribadi. Kepala staf Gabbard, Alexa Kenning, bahkan menyebut tudingan bahwa Gedung Putih memaksanya mundur sebagai isu yang tidak berdasar.
Ketegangan antara keduanya memang sudah lama menjadi sorotan. Gabbard dikenal sebagai tokoh yang konsisten menolak intervensi militer AS di luar negeri. Sikap itu disebut mulai berbenturan dengan Trump ketika pemerintahan AS mendukung langkah militer terhadap Iran pada awal tahun ini. Dalam beberapa keputusan penting terkait operasi militer, Gabbard dikabarkan tidak dilibatkan secara penuh dalam pembahasan internal Gedung Putih.
Perbedaan pandangan semakin terlihat ketika Gabbard menyampaikan bahwa intelijen AS belum menemukan indikasi Iran kembali mengembangkan program senjata nuklir pasca-serangan gabungan AS dan Israel. Pernyataan itu bertolak belakang dengan sikap Trump yang menilai Iran berada sangat dekat dengan kepemilikan senjata nuklir dan dianggap menjadi ancaman serius bagi keamanan global.
Trump bahkan sempat secara terbuka mengabaikan penilaian intelijen yang disampaikan Gabbard di Kongres. Perbedaan sikap tersebut memicu dugaan adanya keretakan serius di internal pemerintahan AS hingga akhirnya berujung pada mundurnya salah satu pejabat intelijen paling berpengaruh di kabinet Trump.
Di tengah derasnya spekulasi politik, Trump tetap memberikan apresiasi kepada Gabbard. Presiden AS itu menyebut Gabbard telah melakukan “pekerjaan luar biasa” selama memimpin koordinasi 18 badan intelijen Amerika Serikat. Trump juga memastikan wakil Gabbard, Aaron Lukas, akan ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas Direktur Intelijen Nasional AS.
Mundurnya Tulsi Gabbard kini menambah daftar pejabat penting yang meninggalkan pemerintahan Trump dalam beberapa bulan terakhir. Situasi tersebut semakin memperkuat spekulasi bahwa dinamika politik di Gedung Putih masih dipenuhi ketegangan di tengah memanasnya isu konflik Iran dan keamanan global.***


