JAKARTA|MEB.COM – Nilai tukar rupiah kembali melemah di penutupan perdagangan Kamis, bergerak 13 poin atau 0,08 persen menjadi Rp16.905 per dolar AS, setelah sebelumnya Rp16.892. Pelemahan ini dipicu ketegangan geopolitik yang kian memanas antara AS-Israel dan Iran, yang membuat pelaku pasar ketar-ketir.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menjelaskan, “Tren penguatan indeks dolar masih berlanjut mendekati level 100, didorong risiko perang terbuka antara AS-Israel dan Iran,” ucapnya.
Ketegangan ini makin nyata setelah Iran menegaskan tidak akan berunding dengan AS dan bersikeras melanjutkan permusuhan. Mohammad Mokhber, ajudan mendiang Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, menekankan, “Iran tidak mempercayai AS dan mampu melanjutkan perang, berbekal pengalaman delapan tahun Perang Iran-Irak (1980-1988).”
Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bersumpah membalas serangan AS-Israel yang menghantam sejumlah target, termasuk di Tehran. Televisi pemerintah Iran bahkan melaporkan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei gugur dalam serangan itu.
Iran merespons dengan serangan rudal balasan ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah. IRGC menyebut korban sipil telah melampaui 700 orang, dengan sasaran serangan meliputi sekolah, rumah sakit, stadion, restoran, dan gedung pernikahan.
Dari sisi domestik, penurunan outlook rating oleh Fitch menambah kekhawatiran pelaku pasar. Meski begitu, minat terhadap obligasi pemerintah masih tinggi, terutama tenor pendek hingga menengah, sehingga menahan pelemahan rupiah lebih dalam.
Rully menjelaskan, “Obligasi pemerintah menawarkan yield menarik dan likuiditas tinggi, dengan penurunan terbesar pada tenor 7 tahun sebanyak 4,4 bps.”
Sementara itu, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia justru menguat ke Rp16.886 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.911.***


