JAKARTA|MEB.COM – Persaingan global dalam perebutan mineral tanah jarang (rare earth) memasuki babak baru. Setelah bertahun-tahun menjadi pemain dominan, China kini menghadapi tantangan serius dari Brasil yang mulai muncul sebagai kekuatan baru dalam industri mineral strategis dunia.
Negara terbesar di Amerika Selatan itu tengah menarik gelombang investasi besar dari perusahaan tambang internasional yang berlomba mengembangkan cadangan mineral tanah jarang untuk memenuhi lonjakan kebutuhan industri kendaraan listrik, energi terbarukan, kecerdasan buatan (AI), hingga robotika.
Salah satu proyek yang menjadi sorotan dunia adalah Caldeira di negara bagian Minas Gerais. Proyek yang dikembangkan Meteoric Resources tersebut diyakini menyimpan salah satu deposit lempung ionik terbesar di dunia, sumber penting bagi unsur tanah jarang bernilai tinggi seperti dysprosium dan terbium. Kedua mineral tersebut menjadi komponen krusial dalam pembuatan motor kendaraan listrik, turbin angin, pusat data AI, serta berbagai teknologi canggih lainnya.
Permintaan global terhadap mineral tanah jarang terus meningkat seiring percepatan transisi energi bersih dan transformasi digital. Data International Energy Agency (IEA) menunjukkan kebutuhan terhadap unsur-unsur magnetik penting melonjak tajam sejak 2015 dan diperkirakan akan terus bertumbuh hingga akhir dekade ini.
Di tengah tren tersebut, Brasil berada pada posisi yang sangat strategis. Negara ini memiliki cadangan mineral tanah jarang terbesar kedua di dunia dengan estimasi mencapai 21 juta ton. Angka tersebut hanya berada di bawah China yang diperkirakan memiliki cadangan sekitar 44 juta ton.
Besarnya potensi tersebut memicu ledakan aktivitas eksplorasi dan pengajuan izin pertambangan. Ribuan proyek baru sedang diproses oleh otoritas pertambangan Brasil, mencerminkan tingginya minat investor terhadap komoditas yang kini dijuluki sebagai “emas baru” era teknologi modern.
Arus investasi asing pun semakin deras. Sejumlah perusahaan dari Australia, Kanada, dan Amerika Serikat memperluas ekspansi mereka di Brasil. Pada April lalu, USA Rare Earth Minerals mengakuisisi tambang aktif Serra Verde di wilayah Minaçu dengan nilai transaksi mencapai US$2,8 miliar. Langkah tersebut dipandang sebagai bagian dari strategi negara-negara Barat untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan mineral tanah jarang yang selama ini didominasi China.
Meski memiliki cadangan yang sangat besar, Brasil masih menghadapi tantangan utama pada sektor hilirisasi. Saat ini China masih menguasai lebih dari 90 persen kapasitas pemurnian mineral tanah jarang dunia serta sekitar 95 persen produksi magnet permanen global.
Namun, dengan kombinasi cadangan melimpah, biaya energi yang relatif kompetitif, serta dukungan sumber energi terbarukan, Brasil dinilai memiliki peluang besar untuk membangun rantai pasok industri yang terintegrasi. Jika berhasil, negara tersebut berpotensi menjadi pesaing utama China dalam pasar mineral strategis global dan mengubah peta kekuatan industri teknologi dunia dalam beberapa tahun mendatang.***


