Jakarta | Mediaerabaru.com – Kabar meninggalnya seorang pekerja laboratorium di Irkutsk, Rusia, yang dikaitkan dengan penyakit pes kembali mengingatkan dunia pada salah satu penyakit menular yang pernah menjadi momok besar dalam sejarah manusia.
The Moscow Times pada 2 Oktober 2026 memberitakan hampir 200 orang berada dalam pengawasan setelah pekerja laboratorium tersebut meninggal. Namun, detail mengenai kasus itu masih membutuhkan informasi lebih lengkap dan konfirmasi resmi. Terlepas dari perkembangan kasus di Rusia, penyakit pes penting untuk kembali dikenali, termasuk oleh masyarakat Indonesia.
Prof. Tjandra Yoga Aditama, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI sekaligus Adjunct Professor Griffith University Australia, menyebut setidaknya ada lima hal penting yang perlu diketahui mengenai penyakit pes.
Pertama, pes bukan penyakit baru. Penyakit yang disebabkan bakteri Yersinia pestis ini dikenal luas sebagai penyebab Black Death atau Wabah Hitam yang melanda dunia pada abad ke-14, sekitar 1346–1353. Wabah tersebut menewaskan puluhan hingga ratusan juta orang di Eropa, Asia dan Afrika.
Sejarah panjang tersebut juga memiliki kaitan dengan Indonesia. Tjandra mengutip laman BRIN pada 12 April 2026 yang menyebut Indonesia pernah mengalami wabah pes pada awal abad ke-20, terutama di Pulau Jawa.
Kedua, pes merupakan penyakit zoonotik, yakni penyakit yang dapat ditularkan dari hewan kepada manusia. Menurut WHO dalam keterangan 29 September 2026, penyebabnya adalah bakteri Yersinia pestis. Penularan dapat terjadi melalui hewan, termasuk melalui vektor seperti pinjal, sementara pada kondisi tertentu penularan antarmanusia juga dapat terjadi, terutama melalui kontak dengan bagian tubuh yang terinfeksi atau menghirup partikel pernapasan dari penderita pes paru.
Karena itu, ketika terjadi dugaan kasus, orang-orang yang memiliki kontak erat dengan pasien perlu mendapat perhatian dan pemantauan. Hal tersebut pula yang membuat laporan mengenai pengawasan terhadap hampir 200 orang di Rusia menjadi perhatian.
Ketiga, pes memiliki beberapa bentuk dengan manifestasi yang berbeda. Yang paling dikenal adalah bubonic plague, ketika infeksi menyebabkan pembengkakan pada kelenjar getah bening. Ada pula pes septikemik yang terjadi ketika bakteri menyebar melalui aliran darah.
Bentuk lainnya adalah pneumonic plague, ketika infeksi menyerang paru-paru dan menyebabkan pneumonia. Bentuk inilah yang menjadi perhatian khusus karena dapat berkembang cepat dan dapat menular melalui droplet pernapasan dalam kondisi tertentu.
Keempat, pes memang dapat menjadi penyakit yang serius dan berujung pada kematian, terutama jika tidak segera mendapatkan penanganan. WHO menyebut bubonic plague yang tidak diobati dapat memiliki angka kematian yang tinggi, sedangkan pneumonic plague dapat berkembang sangat cepat dan berakibat fatal bila pengobatan terlambat diberikan.
Namun, perkembangan ilmu kedokteran membuat situasinya berbeda dibandingkan masa Black Death. Pes saat ini dapat diobati dengan antibiotik apabila dikenali dan ditangani secara cepat.
Kelima, Indonesia tidak boleh merasa sepenuhnya aman hanya karena dalam beberapa tahun terakhir tidak ditemukan kasus pes pada manusia.
Tjandra mengutip BRIN yang mengingatkan adanya kemungkinan silent period, yaitu periode ketika penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama, tetapi potensi kemunculannya belum tentu benar-benar hilang. Hal ini berkaitan dengan keberadaan bakteri penyebab pes serta vektor dan reservoirnya, seperti pinjal dan tikus, di sejumlah wilayah yang bersifat enzootik di Indonesia.
Karena itu, kabar mengenai dugaan kasus pes di Rusia bukan sekadar persoalan yang terjadi jauh di luar negeri. Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa penyakit lama yang pernah menyebabkan tragedi besar dalam sejarah manusia tetap membutuhkan kewaspadaan.
“Perlu dipantau dengan ketat apa yang terjadi di Rusia ini, dan kita juga harus terus berhati-hati tentang kemungkinan pes di negara kita,” ujar Tjandra.
Pes memang memiliki sejarah kelam. Tetapi sejarah itu sekaligus memberikan pelajaran penting: kewaspadaan, deteksi dini, pengawasan kontak dan penanganan cepat merupakan kunci agar penyakit menular tidak berkembang menjadi wabah yang lebih luas.


