Jakarta | Mediaerabaru.com – Bahaya rokok tidak berhenti pada kerusakan paru-paru. Kebiasaan merokok juga berkaitan erat dengan meningkatnya risiko tuberkulosis (TB), memperlambat pemulihan pasien, hingga meningkatkan kemungkinan penyakit kambuh dan berujung pada kematian.
Peringatan ini menjadi sorotan menjelang Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) yang diperingati setiap 31 Mei. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan kebiasaan merokok menyebabkan sekitar 8 juta kematian setiap tahun di seluruh dunia. Di tengah upaya pengendalian TB yang menjadi salah satu perhatian pembangunan kesehatan nasional, hubungan antara rokok dan penyakit menular ini perlu mendapat perhatian lebih serius.
Prof. Tjandra Yoga Aditama, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI sekaligus Adjunct Professor Griffith University, Australia, menjelaskan bahwa TB memang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Namun, berbagai bukti ilmiah menunjukkan bahwa kebiasaan merokok, termasuk paparan asap rokok pada perokok pasif, dapat memperbesar risiko seseorang mengalami penyakit tersebut.
Dalam publikasi WHO berjudul Tobacco Exposed – Poisoning Our Planet and a Key Driver for the TB Epidemic, disebutkan bahwa pada 2020 diperkirakan terdapat sekitar 730.000 kasus TB yang berkaitan dengan kebiasaan merokok.
WHO juga menyoroti bahwa orang yang merokok memiliki risiko terkena TB sekitar dua kali lipat dibandingkan mereka yang tidak merokok. Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kemungkinan terinfeksi, tetapi juga perjalanan penyakit dan keberhasilan pengobatan.
Pasien TB yang tetap merokok berisiko mengalami pemulihan lebih lambat, menghadapi tantangan dalam keberhasilan pengobatan, serta mengalami kekambuhan. Bahkan, sebagian pasien masih dapat merasakan gangguan paru-paru setelah menyelesaikan pengobatan TB.
Temuan tersebut diperkuat oleh publikasi jurnal ilmiah internasional Pathogens pada 2024 berjudul Cigarette Smoking as a Risk Factor for Tuberculosis in Adults: Epidemiology and Aspects of Disease Pathogenesis. Kajian itu menjelaskan bahwa hubungan antara merokok dan TB telah menjadi perhatian penelitian selama lebih dari satu abad.
Berdasarkan berbagai studi epidemiologi dan meta-analisis, merokok aktif maupun paparan asap rokok terbukti berkaitan dengan sejumlah risiko TB, mulai dari infeksi, aktifnya kembali infeksi yang sebelumnya tidak menimbulkan gejala, memburuknya TB primer, meningkatnya keparahan penyakit dengan terbentuknya rongga atau kavitas di paru-paru, hingga kematian akibat TB.
Asap rokok melemahkan pertahanan paru-paru, salah satu persoalan utama terletak pada kemampuan tubuh melawan bakteri penyebab TB. Asap rokok dapat mengganggu fungsi makrofag alveolar, yakni sel pertahanan yang berada di kantung udara paru-paru dan berperan penting dalam menghadapi kuman yang masuk ke saluran pernapasan.
Ketika fungsi pertahanan tersebut terganggu, kemampuan tubuh mengendalikan infeksi dapat ikut terpengaruh. Kondisi ini membuat kebiasaan merokok menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam upaya pencegahan maupun penanganan TB.
Selain memengaruhi pertahanan tubuh, penelitian juga menyoroti kemungkinan hubungan antara paparan rokok, perubahan respons bakteri, dan resistensi terhadap obat. Meski demikian, resistensi obat TB merupakan persoalan kompleks yang tidak bisa disimpulkan semata-mata disebabkan oleh kebiasaan merokok.
Resistensi obat menjadi perhatian penting karena dapat membuat pengobatan lebih sulit dan membutuhkan penanganan khusus. Karena itu, pasien TB perlu menjalani pengobatan sesuai petunjuk tenaga kesehatan dan tidak menghentikan obat sebelum waktunya.
Pengendalian rokok perlu berjalan bersama penanggulangan TB
Menurut Prof. Tjandra, berbagai temuan tersebut menunjukkan pentingnya koordinasi antara program pengendalian TB dan upaya penanggulangan kebiasaan merokok. Kedua program tersebut perlu berjalan beriringan, baik di tingkat pelayanan klinis maupun dalam kebijakan kesehatan nasional.
Upaya itu tidak cukup hanya dengan memastikan pasien TB memperoleh obat. Pengurangan paparan asap rokok, dukungan untuk berhenti merokok, serta perlindungan masyarakat dari asap rokok juga perlu menjadi bagian dari perhatian dalam pengendalian penyakit.
Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia pun menjadi momentum untuk memperkuat pesan bahwa berhenti merokok bukan semata-mata upaya menjaga kesehatan pribadi. Langkah tersebut juga merupakan bagian dari perlindungan kesehatan keluarga dan masyarakat.
Di tengah tantangan pengendalian tuberkulosis di Indonesia, mengurangi konsumsi rokok dan paparan asapnya menjadi langkah penting yang patut diperkuat bersama.
Prof. Tjandra Yoga Aditama merupakan penerima Tobacco Free Award dari WHO pada 1998, Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025, serta penghargaan penanggulangan TB dari PPTI pada 2026.


