Jakarta | Mediaerabaru.com – Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi menambah tekanan terhadap biaya kesehatan masyarakat. Ketergantungan industri farmasi Indonesia pada bahan baku impor membuat pelemahan rupiah perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan biaya produksi obat dan berpotensi memengaruhi harga jual kepada masyarakat.
Prof. Tjandra Yoga Aditama, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI sekaligus Adjunct Professor Griffith University, Australia, mengingatkan bahwa dampak pelemahan rupiah terhadap kesehatan tidak hanya menyangkut harga obat. Kenaikan biaya bahan pemeriksaan diagnostik dan alat kesehatan impor juga berpotensi memengaruhi pelayanan medis, sementara tekanan ekonomi dapat mengurangi kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan gizi dan membiayai pengobatan.
Menurut Tjandra, sebagian besar bahan baku obat di Indonesia masih berasal dari luar negeri. Ketika dolar menguat, biaya pembelian bahan baku dalam rupiah berpotensi meningkat. Jika tekanan kurs berlangsung, industri farmasi akan menghadapi tantangan untuk menjaga efisiensi produksi tanpa mengorbankan ketersediaan obat yang dibutuhkan masyarakat.
Pemerintah dikabarkan berupaya mengantisipasi risiko tersebut melalui relaksasi pengadaan yang memberikan fleksibilitas kepada industri farmasi untuk mencari pemasok bahan baku dari negara lain dengan harga lebih terjangkau. Penyesuaian bentuk atau ukuran kemasan obat juga disebut sebagai salah satu opsi untuk meningkatkan efisiensi biaya produksi.
Langkah tersebut diharapkan dapat membantu mengendalikan biaya sehingga tekanan terhadap harga obat tidak semakin membebani masyarakat. Namun, perkembangan harga tetap perlu dicermati, terutama bagi pasien yang harus mengonsumsi obat secara rutin dalam jangka panjang.
Tekanan nilai tukar juga berpotensi merembet ke kebutuhan pemeriksaan kesehatan. Reagen dan berbagai bahan diagnostik, seperti cartridge dan test strip, sebagian masih diimpor sehingga biaya pengadaannya dapat meningkat ketika rupiah melemah. Kondisi serupa juga berpotensi terjadi pada alat kesehatan berteknologi tinggi yang banyak didatangkan dari luar negeri.
Kenaikan biaya pengadaan berbagai kebutuhan tersebut dapat menjadi tantangan bagi fasilitas kesehatan dalam mempertahankan ketersediaan layanan. Masyarakat yang membutuhkan pemeriksaan menggunakan peralatan canggih juga perlu mendapat perhatian agar tetap dapat mengakses pelayanan medis sesuai kebutuhannya.
Di sisi lain, pelemahan rupiah dapat memberikan tekanan tambahan terhadap kehidupan rumah tangga. Jika kenaikan biaya hidup tidak diimbangi pendapatan, masyarakat berisiko mengalami stres yang dapat berdampak pada kesehatan mental. Dalam jangka panjang, penurunan daya beli juga dapat menyulitkan keluarga memenuhi kebutuhan pangan bergizi maupun membayar biaya pemeriksaan dan pengobatan.
Persoalan ini menjadi penting karena kemampuan masyarakat menjaga kesehatan tidak hanya ditentukan oleh tersedianya obat dan fasilitas medis, tetapi juga oleh kemampuan ekonomi untuk mengaksesnya. Ketika pengeluaran rumah tangga semakin tertekan, kebutuhan kesehatan berisiko tersisih oleh kebutuhan lain yang dianggap lebih mendesak.
Tjandra berharap kondisi ekonomi segera membaik sehingga tekanan nilai tukar terhadap berbagai sektor dapat dikendalikan. Stabilitas ekonomi dinilai penting bukan hanya bagi dunia usaha, melainkan juga bagi upaya menjaga kesehatan masyarakat.
Sebab, ketika biaya kesehatan berpotensi meningkat sementara daya beli masyarakat melemah, tantangan yang dihadapi bukan sekadar menjaga harga obat tetap terkendali, tetapi juga memastikan masyarakat tetap mampu memperoleh pengobatan, memenuhi kebutuhan gizi, dan mengakses pelayanan kesehatan yang diperlukan.
Prof. Tjandra Yoga Aditama merupakan mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, mantan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit, serta mantan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.


