AS Klaim Operasi “Epic Fury” Selesai, Ancaman Trump ke Iran Justru Memanas

WASHINGTON DC|MEB.COM – Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan operasi militer “Epic Fury” terhadap Iran resmi dihentikan. Namun di balik klaim berakhirnya operasi tersebut, ketegangan geopolitik antara Washington dan Teheran justru masih membara dan memicu kekhawatiran dunia internasional.

Pemerintahan Presiden Donald Trump menyatakan target utama operasi telah tercapai sehingga misi ofensif tidak lagi dilanjutkan. Meski begitu, Gedung Putih tetap mengirim sinyal ancaman keras kepada Iran apabila menolak kesepakatan baru yang diinginkan Washington.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan “Epic Fury” kini memasuki tahap akhir dan tidak lagi dikategorikan sebagai operasi ofensif. Pemerintah AS mengklaim misi tersebut dilakukan demi kepentingan defensif dan menjaga stabilitas keamanan kawasan Timur Tengah. Washington juga menuding Iran mengalami tekanan besar, baik dari sisi ekonomi maupun kekuatan militer sejak konflik pecah pada Februari 2026.

Di dalam negeri AS, keputusan penghentian operasi itu langsung memicu polemik politik. Pemerintahan Trump dituding berupaya menghindari kewajiban meminta persetujuan Kongres sebagaimana diatur dalam War Powers Act untuk operasi perang yang berlangsung lebih dari 60 hari. Sejumlah legislator menilai deklarasi berakhirnya operasi dilakukan guna meredam kritik terkait legalitas aksi militer terhadap Iran.

Di tengah sorotan tersebut, Trump justru kembali memancing kontroversi setelah menyebut konflik dengan Iran hanya sebagai “perang mini” dan “pertempuran kecil”. Pernyataan itu menuai kecaman karena konflik telah menelan korban jiwa dan mengguncang stabilitas kawasan Timur Tengah. Trump bahkan memperingatkan bahwa serangan militer bisa kembali dilakukan dengan kekuatan lebih besar jika Iran tidak segera menyetujui kesepakatan yang diajukan AS.

Walau “Epic Fury” diumumkan selesai, militer AS disebut belum sepenuhnya meninggalkan kawasan. Washington kini mengalihkan fokus ke operasi baru bernama “Project Freedom” yang dipusatkan di Selat Hormuz. Operasi tersebut diklaim bertujuan menjaga keamanan jalur pelayaran internasional dan distribusi energi global yang sempat terganggu akibat konflik.

Situasi semakin rumit setelah target utama AS terkait pengamanan uranium yang telah diperkaya Iran disebut belum sepenuhnya tercapai. Hingga kini, Iran juga belum menunjukkan tanda akan tunduk pada tekanan Washington. Kondisi itu membuat dunia internasional menanti arah berikutnya: apakah konflik menuju jalur damai, atau hanya memasuki jeda sebelum ledakan baru kembali terjadi.***

Pos terkait