Gara-Gara Masuk FYP TikTok, Jajanan Diserbu Anak Muda

JAKARTA|MEB.COM – Fenomena kuliner viral kembali mengguncang media sosial setelah sejumlah jajanan kaki lima mendadak diserbu pembeli usai muncul di halaman FYP TikTok. Dalam waktu singkat, pedagang yang sebelumnya berjualan biasa saja tiba-tiba dipadati antrean panjang. Banyak warganet bahkan menyebut TikTok kini lebih berpengaruh dibanding iklan konvensional dalam menentukan tren makanan di Indonesia.

Video berdurasi singkat yang menampilkan tampilan makanan unik, sensasi rasa ekstrem, hingga cara penyajian tak biasa terbukti mampu menarik jutaan penonton hanya dalam hitungan jam. Mulai dari jajanan pedas level tinggi, minuman jumbo, hingga camilan sederhana dengan topping berlebihan, semuanya bisa mendadak viral setelah ramai dibagikan pengguna media sosial.

Sejumlah pelaku usaha mengaku mengalami lonjakan penjualan drastis setelah konten mereka masuk FYP. Tidak sedikit pedagang yang sebelumnya sepi pembeli kini mampu menghabiskan dagangan hanya dalam beberapa jam. Bahkan beberapa lokasi kuliner viral dilaporkan kewalahan menghadapi antrean karena jumlah pembeli meningkat berkali-kali lipat dibanding hari biasa.

Fenomena ini menunjukkan perubahan besar dalam pola promosi bisnis kuliner di Indonesia. Jika sebelumnya popularitas tempat makan dibangun lewat promosi besar-besaran atau rekomendasi dari mulut ke mulut, kini satu video berdurasi kurang dari satu menit mampu langsung mengangkat nama sebuah jajanan hingga dikenal secara nasional.

Di balik ledakan popularitas tersebut, muncul pula kritik dari sebagian masyarakat yang menilai tren kuliner viral terlalu mengutamakan sensasi visual dibanding kualitas rasa. Banyak makanan dianggap viral hanya karena tampil menarik di kamera, sementara cita rasa dan kualitas produk dinilai belum tentu sesuai dengan ekspektasi pembeli yang datang setelah melihat konten media sosial.

Meski menuai pro dan kontra, fenomena jajanan viral berbasis TikTok diprediksi masih akan terus mendominasi industri kuliner Indonesia sepanjang 2026. Media sosial kini bukan sekadar tempat hiburan, melainkan telah berubah menjadi “mesin utama” pembentuk tren konsumsi masyarakat, terutama di kalangan generasi muda yang aktif berburu pengalaman kuliner viral demi kebutuhan konten digital mereka.***

Pos terkait