KONGO|MEB.COM – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi menetapkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional. Keputusan ini memicu kewaspadaan global karena penyebaran virus mematikan tersebut dinilai berpotensi lebih luas dibanding jumlah kasus yang telah terdeteksi. Di saat dunia belum sepenuhnya pulih dari dampak pandemi Covid-19, lonjakan kasus Ebola kembali menempatkan Afrika sebagai pusat perhatian kesehatan internasional.
Wabah yang berpusat di Provinsi Ituri, wilayah timur Republik Demokratik Kongo, dilaporkan mencatat sekitar 246 kasus suspek dengan sedikitnya 80 korban meninggal dunia. WHO menegaskan situasi ini belum masuk kategori pandemi global, namun risiko penyebaran lintas negara dinilai tinggi akibat mobilitas penduduk, aktivitas perdagangan, konflik bersenjata, serta lemahnya fasilitas kesehatan di sejumlah wilayah terdampak.
Kondisi semakin mengkhawatirkan setelah kasus Ebola terkonfirmasi muncul di ibu kota Kinshasa dan meluas hingga Uganda serta Kota Goma yang berada di kawasan konflik kelompok pemberontak M23. WHO menilai kombinasi konflik dan perpindahan penduduk dalam jumlah besar dapat mempercepat penyebaran wabah apabila respons internasional terlambat dilakukan.
Virus yang memicu wabah kali ini berasal dari galur Bundibugyo, salah satu jenis Ebola yang dikenal mematikan namun hingga kini belum memiliki vaksin maupun obat resmi yang disetujui secara luas. Ebola menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita seperti darah, muntahan, keringat, dan cairan tubuh lainnya.
Pada tahap awal, gejala Ebola sering menyerupai flu, mulai dari demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, hingga kelelahan berat. Namun dalam kondisi parah, pasien dapat mengalami muntah, diare, kerusakan organ, hingga perdarahan internal maupun eksternal yang berujung kematian.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, memperingatkan bahwa masih terdapat ketidakpastian besar terkait jumlah sebenarnya orang yang terinfeksi serta luas penyebaran geografis wabah tersebut. Negara-negara tetangga seperti Uganda, Rwanda, dan Sudan Selatan kini masuk kategori risiko tinggi. Rwanda bahkan telah memperketat pemeriksaan perbatasan dan menyiagakan tim kesehatan untuk mendeteksi potensi penularan sedini mungkin.
Meski status darurat internasional telah diumumkan, para ahli menegaskan ancaman Ebola terhadap dunia masih jauh lebih kecil dibanding Covid-19. Berbeda dengan virus corona, Ebola tidak menyebar melalui udara sehingga relatif lebih mudah dikendalikan melalui pelacakan kontak, isolasi pasien, dan pengawasan ketat di wilayah terdampak.
Ebola pertama kali ditemukan pada 1976 di wilayah yang kini menjadi Republik Demokratik Kongo dan diyakini berasal dari kelelawar pemakan buah. Selama hampir lima dekade, virus ini telah memicu sedikitnya 17 wabah besar di negara tersebut dan menewaskan sekitar 15 ribu orang di berbagai negara Afrika. Wabah paling mematikan terjadi pada periode 2018 hingga 2020 dengan korban meninggal mendekati 2.300 jiwa.
Kini, dunia kembali dihadapkan pada ancaman lama yang belum sepenuhnya hilang. WHO mendesak penguatan koordinasi internasional dan percepatan respons kesehatan global guna mencegah wabah Ebola berkembang menjadi krisis kesehatan yang lebih luas.


