Jakarta | Mediaerabaru.com – Kasus keracunan makanan kembali terjadi di sejumlah daerah. Dalam beberapa hari terakhir, pemberitaan mengenai dugaan keracunan makanan muncul di Sejumlah daerah, jumlah kasus mencapai ratusan orang. Pakar Kesehatan mengingatkan pentingnya memperkuat sistem keamanan pangan agar kejadian serupa tidak terus berulang, Jumat (11/09).
Berulangnya kasus tersebut menunjukkan bahwa keamanan pangan masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius. Keracunan makanan bukan hanya persoalan ketika seseorang sudah mengalami gejala, tetapi berkaitan dengan bagaimana makanan diproduksi, diolah, disimpan hingga dikonsumsi.
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama, mengingatkan pentingnya memperkuat sistem keamanan pangan agar kejadian serupa tidak terus berulang.
Menurutnya, WHO melalui laman keamanan pangan pada 4 Juni 2026 telah menekankan pentingnya negara memberikan prioritas terhadap keamanan pangan dengan kebijakan yang berbasis bukti ilmiah, aturan yang disusun berdasarkan risiko, serta penerapan sistem keamanan pangan secara baik.
“Kebijakan yang dibuat harus benar-benar berbasis bukti ilmiah dan tentu dapat dilakukan dengan melibatkan pakar yang terkait,” kata Tjandra.
Ia menjelaskan, kerangka aturan juga harus disesuaikan dengan risiko yang ada dan cukup fleksibel dalam penerapannya. Namun, aturan saja tidak cukup apabila tidak diikuti dengan implementasi sistem keamanan pangan secara konsisten.
Tjandra juga mengingatkan bahwa keamanan pangan memiliki kaitan erat dengan gizi dan ketahanan pangan. Karena itu, pengawasan tidak seharusnya hanya dilakukan ketika makanan sudah berada di tangan konsumen.
Konsep keamanan pangan yang sebelumnya dikenal dengan pendekatan “from farm to plate” kini juga ditekankan melalui pendekatan “from production to consumption”. Artinya, perhatian terhadap keamanan makanan harus dilakukan sejak proses produksi hingga makanan dikonsumsi masyarakat.
Menurut Tjandra, prinsip tersebut perlu diterapkan secara konsisten, termasuk melalui penerapan “WHO Five Keys to Safer Food” serta “WHO Five Keys to Growing Safer Fruits and Vegetables”.
Berulangnya kasus keracunan makanan menjadi pengingat bahwa pencegahan harus dilakukan sebelum makanan sampai ke meja makan. Penguatan regulasi, pengawasan produksi, pengolahan yang higienis dan edukasi kepada masyarakat menjadi bagian penting untuk memutus mata rantai keracunan makanan.
“Keamanan pangan harus menjadi prioritas agar kejadian keracunan makanan tidak terus berulang,” tegas Tjandra.


