Megathrust, Kepala BMKG: Tidak Bisa Diprediksi, belum Ada Metode Ilmiah

Jakarta | Mediaerabaru.com – Belakangan ini masyarakat dibuat resah dengan kabar bakal terjadi gempa besar alias megathrust di Selat Sunda, sementara BMKG tegas mengatakan, terkait prediksi megathurst tidak bisa dipastikan karena belum ada metode ilmiah yang bisa memastikan kapan terjadinya gempa, Senin (14/09).

Kabar menakutkan itu diunggah di media massa maupun media sosial, ini yang membuat masyarakat resah akan adanya gempa bumi hebat berpusat di selat Sunda. Kabar menyeramkan itu sudah beredar lebih dari 3 bulan lalu, dan terus hingga saat ini.

Menurut Kepala BMKG Prof. Ir. Teuku Faisal Fathani, Ph.D., IPU., mengatakan, belum ada metode ilmiah yang dapat menentukan secara tepat kapan, di mana, dan berapa besar gempa akan terjadi.

“Adanya pembahasan mengenai zona megathrust tidak boleh diterjemahkan sebagai tanda bahwa gempa besar sudah akan terjadi dalam waktu dekat”, kilahnya.

Pernyataan itu membantah rumor bakal terjadinya megathrust dalam waktu dekat, masyarakat harus paham bedanya potensi dan prediksi. Zona megathrust memang memiliki potensi menghasilkan gempa besar karena merupakan zona pertemuan lempeng yang dapat menyimpan akumulasi energi. Sementara prediksi perkiraan, dan belum ada teknologi yang bisa menentukan kapan terjadinya gempa.

“Jadi, kita jangan mengubah informasi tentang potensi menjadi informasi tentang kepastian waktu kejadian. Karena itu, sikap yang tepat bukan panik, tetapi meningkatkan kesiapsiagaan”, ungkapnya.

Dikatakan, kawasan Selat Sunda berada di antara segmen megathrust Enggano di sisi Sumatra dan megathrust Jawa Bagian Barat di sisi Jawa. Karena itu, wilayah yang berpotensi terdampak tsunami terutama adalah pesisir yang berhadapan dengan sumber gempa, baik di pesisir barat daya Sumatra maupun pesisir selatan Jawa dan kawasan Selat Sunda.

BMKG memiliki sistem peringatan dini tsunami Indonesia, InaTEWS, diperkuat dan beroperasi 24 jam. Berdasarkan pengembangan terbaru, BMKG sudah mampu menerbitkan informasi gempa dan peringatan dini tsunami maksimal sekitar tiga menit setelah gempa terjadi.

“Sebagai contoh, pada gempa Flores M7,7 tanggal 15 Agustus 2026, BMKG mengeluarkan Peringatan Dini Tsunami sekitar 2 menit 16 detik setelah gempa, kemudian melakukan pemutakhiran informasi berdasarkan data dan observasi berikutnya”, ucapnya.

Ia mengingatkan masyarakat yang dekat dengan sumber tsunami, waktu tiba gelombang tsunami bisa sangat singkat. Oleh karena itu, apabila masyarakat pesisir merasakan guncangan gempa yang kuat atau berlangsung lama, segera melakukan evakuasi mandiri menjauh dari pantai dan menuju tempat aman.

Kepala BMKG berpesan, jangan panik dan tetap waspada. Potensi gempa megathrust adalah fakta ilmiah yang harus kita hadapi dengan kesiapsiagaan, bukan dengan ketakutan. Kita tidak tahu kapan gempa besar akan terjadi, sehingga yang paling penting bukan mencoba menebak waktunya, tetapi mempersiapkan diri dan lingkungan sejak sekarang.

Masyarakat sebaiknya mengetahui apakah tempat tinggal atau tempat kerjanya berada di kawasan rawan tsunami, mengetahui jalur dan tempat evakuasi, memperhatikan kondisi bangunan, serta memahami tindakan yang harus dilakukan ketika gempa terjadi.

Dan yang tidak kalah penting, jangan mudah percaya informasi yang menyebut gempa besar akan terjadi pada tanggal atau waktu tertentu. Informasi semacam itu tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah apabila tidak didukung oleh sistem dan kajian resmi.

Pos terkait