Jakarta | Mediaerabaru.com – Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Prof. Dr. Komarudin, M.Si., secara resmi membuka Konferensi Internasional The 2nd International Conference on Environment, Economic, Education, Social-Humanities, and Technology (ICE3SHT) 2026, yang mengusung tema: Setting Resilient and Sustainable Societies: Holistic Approaches to Environmental Management in the Digital Era, dinilai sangat tepat untuk menyoroti urgensi pendekatan terpadu dalam menghadapi krisis lingkungan global.
Di hadapan para peserta, akademisi, dan mitra institusional, Rektor UNJ menyoroti pentingnya komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan yang tercermin melalui penyelenggaraan program-program pascasarjana di UNJ, di mana salah satunya adalah kegiatan ICE3SHT yang merupakan agenda tahunan Prodi Magister Manajemen Lingkungan SPs UNJ.
Rektor UNJ menekankan bahwa tantangan lingkungan saat ini mulai dari perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, polusi laut, hingga eksploitasi sumber daya yang tidak berkelanjutan—membutuhkan kerja sama interdisipliner, riset ilmiah yang kuat, kebijakan publik yang efektif, serta kemitraan internasional.
Selain itu, perkembangan teknologi digital seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan mahadata (big data) menawarkan peluang besar untuk manajemen lingkungan yang sistemik. Namun, penerapannya harus senantiasa dipandu oleh tanggung jawab etis, kesadaran lingkungan, dan partisipasi aktif masyarakat.
“Melalui pendidikan, riset, inovasi, dan kolaborasi internasional, UNJ berkomitmen untuk menjembatani pengetahuan dan aksi nyata guna memajukan pembangunan berkelanjutan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan generasi masa depan,” ungkap Prof. Komarudin dalam sambutannya.
Sejalan dengan Rektor UNJ, Direktur Sekolah Pascasarjana UNJ, Prof. Dr. Dedi Purwana, E. S., M. Bus, berharap ICE3SHT 2026 tidak berhenti sebagai forum presentasi akademik, tetapi berkembang menjadi ruang pembentukan kemitraan penelitian, pertukaran gagasan inovatif, dan pengembangan program kolaboratif yang mampu menerjemahkan pengetahuan menjadi tindakan nyata.
Prof. Dr. Eliana Sari, M. M., Ketua penyelenggara ICE3SHT 2026 yang juga merupakan Koordinator Program Studi Magister Manajemen Lingkungan SPs UNJ menyampaikan bahwa ICE3SHT menjadi ruang pertemuan akademisi, peneliti, praktisi, pembuat kebijakan, dan mahasiswa dari berbagai negara untuk bertukar pengetahuan, mempresentasikan hasil penelitian, serta mengembangkan jejaring kerja sama internasional.
Forum ini juga diarahkan untuk memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan untuk menjawab persoalan lingkungan di tingkat lokal, nasional, maupun global melalui manajemen lingkungan yang komprehensif, khususnya untuk mendukung pembangunan perkotaan yang cerdas dan berkelanjutan.
Platform Strategis Pertukaran Pengetahuan Lintas Negara
Konferensi internasional ini menghadirkan jajaran keynote speaker lintas sektor dan mancanegara, di antaranya: Mr. Mohammad Jumhur Hidayat, M.Si. (Menteri Lingkungan Hidup / Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Republik Indonesia); Prof. Ir. Firdaus Ali, M.Sc., Ph.D. (Mewakili Gubernur DKI Jakarta); Prof. Mei Li (Nanjing University, Tiongkok); Ms. Hyunjeong Jin (United Nations Environment Programme/UNEP); Assoc. Prof. Dr. Nilesh D. Wagh (Somaiya Vidyavihar University, India); serta Dr. Mutia Delina, M.Si. (Universitas Negeri Jakarta).
Dalam sesi pemaparannya, Menteri Lingkungan Hidup/Ketua Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat menyampaikan, masa depan pembangunan berkelanjutan sangat ditentukan oleh kemampuan kita mengintegrasikan kemajuan ekonomi, kualitas pendidikan, perkembangan teknologi, kesejahteraan sosial, dan kelestarian lingkungan hidup. Lebih lanjut Jumhur mengatakan pentingnya menjadikan ilmu pengetahuan sebagai dasar kebijakan, inovasi sebagai penggerak perubahan, dan kelestarian lingkungan sebagai fondasi pembangunan bangsa.
Keberhasilan pembangunan tidak cukup hanya diukur dari seberapa besar pertumbuhan ekonomi yang kita capai, tetapi juga dari seberapa baik kita menjaga kualitas lingkungan hidup dan mewariskan sumber daya alam yang berkelanjutan bagi generasi mendatang.
Sejalan dengan Menteri LH, Koordinator Staf Ahli Gubernur DKI Jakarta, Prof. Firdaus Ali, yang hadir mewakili Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyampaikan materi bertajuk “Resource Management and Climate Change Mitigation in Modern Societies”, di mana Prof. Firdaus menyoroti pentingnya pengelolaan sumber daya dan mitigasi perubahan iklim secara terintegrasi, terutama di kawasan perkotaan yang menghadapi tekanan pertumbuhan penduduk, peningkatan kebutuhan air, persoalan sampah, dan emisi transportasi.
Prof. Mei Li dari School of the Environment, Nanjing University, Tiongkok, memfokuskan perspektif kesehatan lingkungan melalui paparan materi berjudul “Emerging Contaminants and Environmental Health: From Toxicological Evidence to Sustainable Risk Management”, di mana Prof. Mei Li mengulas ancaman kontaminan baru, termasuk mikroplastik dan senyawa organofosfor, terhadap ekosistem dan kesehatan manusia.
Isu pencemaran laut dan kerja sama regional dibahas oleh Hyun Jeong Jin dari Coordinating Body on the Seas of East Asia (COBSEA), United Nation Environment Programme (UNEP), melalui materi “Shared Ocean Challenges and Opportunities for Regional Action in the East Asian Seas”.
Ia menjelaskan bahwa sampah plastik laut, kerusakan ekosistem pesisir, dan perubahan iklim merupakan persoalan lintas batas yang tidak dapat diselesaikan oleh satu negara. Melalui COBSEA, sembilan negara di kawasan Asia Timur, termasuk Indonesia, didorong memperkuat pemantauan sampah laut, harmonisasi pengumpulan data, pertukaran pengetahuan, dan pengembangan kebijakan bersama untuk melindungi ekosistem laut secara berkelanjutan.
Sementara itu, Assoc. Prof. Nilesh D. Wagh dari Department of Environmental Sciences, Somaiya Vidyavihar University, India, memaparkan materi “Air Pollution and Health Risk Assessment: From Global Status to Local Evidence”.
Ia menyoroti ancaman pencemaran udara, yang berisiko terhadap kesehatan masyarakat. Menurutnya, penanganan polusi udara membutuhkan pemantauan kualitas udara secara berkelanjutan, penguatan regulasi, penegakan hukum, keterbukaan informasi publik, serta pemanfaatan teknologi untuk mengidentifikasi tingkat paparan dan memperkirakan risiko kesehatan.
Kontribusi inovasi teknologi dari UNJ turut ditampilkan melalui paparan Mutia Delina dari Program Studi Magister Manajemen Lingkungan UNJ.
Dalam materi “From Vision to Action: AI-Powered Underwater Plastic Waste Detection and Collection”, ia memperkenalkan pengembangan sistem berbasis kecerdasan buatan dan robot bawah air atau Remotely Operated Underwater Vehicle (ROV) untuk mendeteksi sampah plastik di perairan.
Kehadiran para pembicara dari berbagai institusi tersebut memperlihatkan luasnya cakupan persoalan lingkungan, mulai dari pengelolaan sumber daya perkotaan, pencemaran udara dan laut, kontaminan berbahaya, hingga pengembangan teknologi berbasis kecerdasan buatan.
ICE3SHT 2026 diharapkan dapat menjadi platform strategis bagi para peserta untuk bertukar pengetahuan, membagikan hasil riset, serta memperkuat kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara.
Rektor UNJ juga menyampaikan apresiasi kepada panitia penyelenggara, keynote speaker, mitra institusional, dan seluruh peserta atas kontribusi berharga mereka dalam menyukseskan gelaran ICE3SHT 2026.
Konferensi ini ditutup dengan harapan agar gagasan inovatif yang lahir dari forum ini dapat memperkuat kerja sama internasional serta mendorong langkah kolektif menuju masyarakat yang lebih berkelanjutan, tangguh, dan inklusif.


