Jakarta | mediaerabaru.com – Program Studi Magister Manajemen Lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menyelenggarakan The 2nd International Conference on Environment, Economic, Education, Social-Humanities, and Technology (ICE3SHT) 2026 secara hybrid pada Sabtu (31/10). Mengusung tema “Shaping Resilient and Sustainable Societies: Holistic Approaches to Environmental Management in the Digital Era”.
Penentuan tema ini dilatarbelakangi oleh urgensi menyelamatkan masa depan peradaban urban, yakni akselerasi dan dorongan terhadap pertumbuhan kota cerdas (smart city) yang berkelanjutan. Dinamika kependudukan global yang ditandai dengan migrasi masif menuju kawasan perkotaan, dan urbanisasi yang tidak terkendali menciptakan tekanan antropogenik yang signifikan terhadap daya dukung dan daya tampung lingkungan. Fenomena urban heat island, akumulasi limbah padat dan cair, polusi udara kronis, serta konversi lahan hijau menjadi kawasan terbangun merupakan konsekuensi logis dari tata kelola urban yang konvensional.
Paradigma pembangunan harus bergeser dari sekadar pertumbuhan ekonomi menuju keberlanjutan yang holistik, di mana konsep kota cerdas (smart city) muncul sebagai salah satu tawaran solutif paling menjanjikan. Namun, simplifikasi smart city yang hanya bertumpu pada digitalisasi dan adopsi teknologi informasi komputasional tanpa mengintegrasikan prinsip ekologis justru berisiko memperparah ketimpangan lingkungan.
Magister Manajemen Lingkungan UNJ menginisiasi untuk mereorientasi arah pengembangan smart city agar selaras dengan pilar berkelanjutan. Konferensi ini merupakan salah satu wujud komitmen Prodi Magister Manajemen Lingkungan UNJ dalam memberikan dampak nyata bagi masyarakat, sekaligus menjadi wadah pertukaran gagasan antara akademisi, peneliti, praktisi, dan pembuat kebijakan,” ujar Prof. Eliana dalam laporan pembukaannya.
ICE3SHT 2026 merupakan kelanjutan dari konferensi pertama yang diselenggarakan pada 2025 dan telah menjadi agenda akademik tahunan Program Studi Magister Manajemen Lingkungan UNJ. Melalui kegiatan ini, UNJ berupaya menyediakan ruang pertukaran pengetahuan, penyampaian hasil penelitian, dan penyebarluasan praktik terbaik, sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi kepada masyarakat melalui semangat Kampus Berdampak,” ujar Prof. Eliana, yang juga merupakan Koordinator Program Studi Magister Manajemen Lingkungan SPs UNJ.
Acara ini secara resmi dibuka oleh Rektor Universitas Negeri Jakarta, Prof. Dr. Komarudin, M.Si., serta didukung oleh Direktur Sekolah Pascasarjana UNJ, Prof. Dr. Dedi Purwana E.S., M.Bus., yang menyatakan bahwa ICE3SHT 2026 merupakan bagian dari komitmen aktif Sekolah Pascasarjana UNJ pada SDGs. Direktur Sekolah Pascasarjana UNJ, Prof. Dedi Purwana, dalam sambutannya menekankan bahwa persoalan lingkungan saat ini semakin kompleks karena berkaitan erat dengan perubahan iklim, ketidakpastian ekonomi, ketimpangan sosial, degradasi ekosistem, dan perkembangan teknologi.
Konferensi ini menghadirkan jajaran keynote speaker lintas sektor dan mancanegara, di antaranya: Mohammad Jumhur Hidayat, M.Si. (Menteri Lingkungan Hidup / Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Republik Indonesia), Prof. Ir. Firdaus Ali, M.Sc., Ph.D. (Mewakili Gubernur DKI Jakarta), Prof. Mei Li (Nanjing University, Tiongkok), Ms. Hyunjeong Jin (United Nations Environment Programme / UNEP), Assoc. Prof. Dr. Nilesh D. Wagh (Somaiya Vidyavihar University, India), serta Dr. Mutia Delina, M.Si. (Universitas Negeri Jakarta).
Menteri Lingkungan Hidup/Ketua Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat dalam paparannya menyampaikan, masa depan pembangunan berkelanjutan sangat ditentukan oleh kemampuan kita mengintegrasikan kemajuan ekonomi, kualitas pendidikan, perkembangan teknologi, kesejahteraan sosial, dan kelestarian lingkungan hidup.
Lebih lanjut Jumhur mengatakan pentingnya menjadikan ilmu pengetahuan sebagai dasar kebijakan, inovasi sebagai penggerak perubahan, dan kelestarian lingkungan sebagai fondasi pembangunan bangsa.
Prof. Firdaus Ali, Koordinator Staf Ahli Gubernur DKI Jakarta, yang hadir mewakili Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, dalam materinya menyoroti pentingnya pengelolaan sumber daya dan mitigasi perubahan iklim secara terintegrasi, terutama di kawasan perkotaan yang menghadapi tekanan pertumbuhan penduduk, peningkatan kebutuhan air, persoalan sampah, dan emisi transportasi.
Prof. Mei Li dari School of the Environment, Nanjing University, Tiongkok, memfokuskan perspektif kesehatan lingkungan melalui paparan mengenai ancaman kontaminan baru, termasuk mikroplastik dan senyawa organofosfor, terhadap ekosistem dan kesehatan manusia.
Hyun Jeong Jin dari Coordinating Body on the Seas of East Asia (COBSEA), United Nation Environment Programme (UNEP), menyoroti Isu pencemaran laut dan kerja sama regional melalui paparan mengenai “Shared Ocean Challenges and Opportunities for Regional Action in the East Asian Seas”. Ia menjelaskan bahwa sampah plastik laut, kerusakan ekosistem pesisir, dan perubahan iklim merupakan persoalan lintas batas yang tidak dapat diselesaikan oleh satu negara. Melalui COBSEA, sembilan negara di kawasan Asia Timur, termasuk Indonesia, didorong memperkuat pemantauan sampah laut, harmonisasi pengumpulan data, pertukaran pengetahuan, dan pengembangan kebijakan bersama untuk melindungi ekosistem laut secara berkelanjutan.
Sementara itu, Assoc. Prof. Nilesh D. Wagh dari Department of Environmental Sciences, Somaiya Vidyavihar University, India, menyoroti ancaman pencemaran udara, yang berisiko terhadap kesehatan masyarakat. Menurutnya, penanganan polusi udara membutuhkan pemantauan kualitas udara secara berkelanjutan, penguatan regulasi, penegakan hukum, keterbukaan informasi publik, serta pemanfaatan teknologi untuk mengidentifikasi tingkat paparan dan memperkirakan risiko kesehatan.
Mutia Delina dari Program Studi Magister Manajemen Lingkungan UNJ mengenalkan kontribusi inovasi teknologi dari UNJ melalui paparan materi “From Vision to Action: AI-Powered Underwater Plastic Waste Detection and Collection”, ia memperkenalkan pengembangan sistem berbasis kecerdasan buatan dan robot bawah air atau Remotely Operated Underwater Vehicle (ROV) untuk mendeteksi sampah plastik di perairan.
Gelaran The 2nd International Conference on Eco-Efficiency, Environmental Engineering, and Sustainable Health Technology (ICE3SHT) 2026 telah berhasil memetakan peta jalan konseptual dan teknologis bagi peradaban urban masa depan. Forum ilmiah ini menegaskan bahwa keberlanjutan lingkungan bukanlah hambatan bagi kemajuan teknologi kota cerdas, melainkan indikator mutlak dari keberhasilan pembangunan itu sendiri. Konferensi ini diharapkan menghasilkan kebijakan publik yang implementatif, sehingga visi pengembangan smart city berkelanjutan dapat terwujud, di mana kota cerdas semakin bertumbuh, tetapi juga lestari, sehat, dan berkeadilan bagi generasi mendatang, serta dapat diakselerasi secara global.
Gelaran ICE3SHT 2026 ini juga mencatatkan pertumbuhan signifikan dengan diikuti oleh 500 peserta terdaftar serta 73 pemprasaran (presenter) dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga di Indonesia dan luar negeri. Pembahasan riset dibagi ke dalam delapan breakout room paralel yang mencakup bidang lingkungan, ekonomi, pendidikan, sosial humaniora, dan teknologi.
Melalui ICE3SHT 2026, UNJ menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab lebih luas daripada sekadar menghasilkan publikasi ilmiah. Ilmu pengetahuan perlu dihadirkan sebagai dasar perubahan, teknologi dikembangkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat, dan kerja sama internasional diarahkan untuk mewujudkan masa depan lingkungan yang lebih sehat, tangguh, dan berkelanjutan.
Melalui penyelenggaraan konferensi ini, UNJ berharap dapat memperluas jejaring kolaborasi akademik internasional, menjembatani wawasan global dengan tantangan lokal, serta menghasilkan solusi konkrit bagi pengelolaan lingkungan yang tangguh dan inklusif di era digital.
Sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) yang terus mengembangkan reputasi internasional, UNJ menempatkan kolaborasi multidisiplin dan inovasi berkelanjutan sebagai bagian penting dari penguatan Tri Dharma Perguruan Tinggi.


