Pandemi Berikutnya Tinggal Menunggu Waktu, bagaimana Kesiapan Obat dan Vaksin

Palembang | Mediaerabaru.com  – Dunia harus bersiap menghadapi pandemi berikutnya, meskipun belum diketahui kapan akan terjadi dan penyakit apa yang menjadi pemicunya. Kesiapan tidak cukup hanya mengandalkan fasilitas kesehatan, tetapi juga membutuhkan kerja sama global, ketersediaan obat, serta pengembangan vaksin.

Pesan tersebut mengemuka dalam Seminar Ilmiah yang digelar bertepatan dengan peresmian Sriwijaya Health Institute di Palembang, Sumatera Selatan, beberapa waktu lalu. Lembaga pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan profesional ini diresmikan oleh Gubernur Sumatera Selatan, Dr. Herman Deru.

Dalam pemaparannya, pembicara seminar menekankan bahwa pandemi mendatang perlu diantisipasi sejak dini. Sejumlah ancaman yang patut diwaspadai adalah zoonosis, influenza, dan Disease X, yakni istilah untuk penyakit yang belum diketahui tetapi berpotensi menimbulkan ancaman kesehatan serius.

Pengalaman menghadapi pandemi menunjukkan bahwa kesiapan harus dibangun sebelum krisis terjadi. Setidaknya terdapat tiga aspek penting yang perlu diperkuat, yaitu manajemen kesehatan global, kesiapan obat-obatan, dan ketersediaan vaksin.

Di tingkat internasional, dunia telah memiliki kerangka perjanjian pandemi atau Pandemic Convention. Namun, mekanisme Pathogen Access and Benefit-Sharing (PABS), yang mengatur akses terhadap patogen dan pembagian manfaatnya, masih menjadi isu penting dalam pembahasan kerja sama global.

Pengaturan tersebut diperlukan agar kolaborasi internasional dalam menghadapi ancaman penyakit dapat berjalan beriringan dengan pembagian manfaat yang adil dari hasil pengembangan produk kesehatan.

Di luar ancaman pandemi, tantangan kesehatan global juga semakin beragam. Penyakit baru dan penyakit yang kembali merebak, perubahan iklim, penyakit tidak menular, resistansi antimikroba atau AMR, serta perkembangan kecerdasan buatan dalam bidang kesehatan menjadi lima isu yang membutuhkan perhatian serius.

Kompleksitas persoalan tersebut menuntut tenaga kesehatan yang tidak hanya memiliki kemampuan klinis, tetapi juga memahami perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebijakan kesehatan global.

Karena itu, kehadiran Sriwijaya Health Institute diharapkan berkontribusi dalam meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan melalui pendidikan dan pelatihan profesional. Jangkauan pengabdiannya tidak hanya ditujukan bagi Palembang dan Sumatera Selatan, tetapi juga kawasan Sumatera bagian selatan.

Pada kegiatan yang sama, pembicara seminar menyerahkan tujuh buku karyanya kepada Gubernur Herman Deru. Buku-buku tersebut diharapkan memperkaya koleksi Perpustakaan Sumatera Selatan sekaligus menjadi bahan bacaan bagi kalangan akademisi, tenaga kesehatan, dan masyarakat umum.

Penguatan kapasitas tenaga kesehatan dan penyebaran pengetahuan menjadi bagian penting dalam membangun kesiapan menghadapi tantangan kesehatan. Sebab, ketika pandemi berikutnya datang, kesiapan yang dibangun hari ini akan menjadi salah satu modal penting untuk melindungi masyarakat.

Pos terkait