MEDAN | MEB.COM – Jeruji besi tak lagi menjadi batas bagi harapan. Di Masjid At-Taubah dalam lingkungan Lapas Kelas I Medan, suasana Ramadan 1447 Hijriah terasa berbeda. Rabu (4/3/2026) petang, ratusan warga binaan pemasyarakatan (WBP) berkumpul bersama keluarga mereka dalam momen buka puasa bersama yang penuh haru.
Kepala Lapas Kelas I Medan, Fonika Affandi, menegaskan bahwa pemasyarakatan bukan sekadar tempat menjalani hukuman, melainkan ruang pembinaan dan perubahan diri.
“Kita terus memperkuat pembinaan kepada warga binaan khususnya dalam hal keagamaan dan sosial. Sebab, pembinaan di lembaga pemasyarakatan bukan sekadar menghukum yang bersalah,” tegasnya.
Momentum Ramadan ini juga ditandai dengan penandatanganan kerja sama pembinaan tahfizh antara Lapas Kelas I Medan dan LPTQ Sumatera Utara. Kolaborasi ini bertujuan melahirkan qori terbaik dari balik tembok pemasyarakatan—membuktikan bahwa perubahan bisa tumbuh di mana saja.
Kepala Kantor Wilayah Ditjen Pemasyarakatan Sumut, Yudi Suseno, menyebut langkah ini sebagai terobosan pembinaan yang patut diapresiasi. Ia mengingatkan bahwa kemuliaan seseorang di hadapan Tuhan tidak ditentukan oleh status sosial maupun masa lalu.
“Belum tentu kami yang berdiri di depan ini lebih mulia di mata Allah daripada kalian semua. Semoga pertaubatan di tempat ini membuat kalian lebih khusyuk dalam beribadah,” ujarnya.
Suasana semakin hangat ketika warga binaan duduk berdampingan dengan anak, istri, dan orang tua mereka. Tawa anak-anak dan obrolan ringan mewarnai momen berbuka, menghadirkan harapan baru di bulan suci.
Program tahfizh ini diharapkan menjadi tonggak perubahan nyata, menjadikan Ramadan bukan hanya ritual tahunan, tetapi titik balik spiritual bagi para warga binaan.***


