Korea Selatan Curigai Iran di Balik Serangan Rudal di Selat Hormuz

JAKARTA|MEB.COM – Pemerintah Korea Selatan mengungkap dugaan serius terkait serangan terhadap kapal kargo HMM Namu di Selat Hormuz pada 4 Mei lalu. Seoul menilai sejumlah bukti hasil investigasi mengarah pada keterlibatan Iran, termasuk indikasi penggunaan rudal anti-kapal yang memiliki karakteristik serupa dengan persenjataan milik Teheran. Dugaan tersebut langsung memicu perhatian dunia internasional di tengah memanasnya situasi geopolitik kawasan Timur Tengah.

Wakil Menteri Luar Negeri Pertama Korea Selatan, Park Yoon-joo, menyatakan bahwa penyelidikan sementara menemukan puing-puing di dalam kapal yang diduga merupakan bagian dari komponen rudal buatan Iran. Menurutnya, bentuk hulu ledak serta pola serangan memiliki kemiripan dengan rudal anti-kapal Noor atau Qader yang selama ini dikenal sebagai bagian dari arsenal militer Iran.

Temuan tersebut memperkuat kekhawatiran Seoul terhadap ancaman keamanan jalur pelayaran internasional, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur distribusi energi paling vital di dunia.

Dalam investigasi itu juga terungkap bahwa kapal HMM Namu diduga mengalami dua kali serangan beruntun. Ledakan besar terjadi pada serangan kedua, yang menurut analisis militer menunjukkan indikasi adanya upaya untuk menimbulkan kerusakan serius terhadap kapal kargo tersebut. Meski demikian, pemerintah Korea Selatan menegaskan masih bersikap hati-hati dan belum menetapkan secara resmi pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Sebagai langkah lanjutan, Seoul berencana memanggil Duta Besar Iran guna menyampaikan hasil investigasi sekaligus melayangkan protes diplomatik. Korea Selatan juga mendesak Iran mengambil langkah konkret agar insiden serupa tidak kembali terjadi demi menjaga stabilitas keamanan jalur perdagangan internasional.

Di sisi lain, Iran sebelumnya telah membantah keterlibatan dalam serangan terhadap HMM Namu. Hingga kini, Kedutaan Besar Iran di Seoul belum memberikan tanggapan resmi terkait tuduhan tersebut. Situasi ini membuat hubungan diplomatik kedua negara berada dalam tekanan, di tengah meningkatnya kekhawatiran dunia terhadap potensi eskalasi konflik di kawasan Teluk.

Ketegangan di Selat Hormuz sendiri terus meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Penutupan efektif jalur strategis tersebut oleh Iran sempat mengguncang pasar energi global dan memicu lonjakan harga minyak dunia.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bahkan mengambil langkah balasan dengan memblokade jalur pelayaran menuju pelabuhan Iran guna menekan Teheran agar membuka kembali akses Selat Hormuz yang selama ini menjadi urat nadi perdagangan internasional.***

Pos terkait