Jakarta | Mediaerabaru.com – Kepemimpinan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kawasan Asia Tenggara atau South-East Asia Regional Office (SEARO) kembali memasuki babak baru. Setelah melalui dinamika panjang sejak 2024, Saima Wazed akhirnya mengundurkan diri dari jabatan Regional Director WHO Asia Tenggara pada 9 September 2026.
Perkembangan tersebut terjadi sehari setelah Komite Regional WHO Asia Tenggara merekomendasikan pemberhentian Saima Wazed dari jabatan tersebut. Rekomendasi itu selanjutnya akan diproses sesuai mekanisme tata kelola WHO.
Prof Tjandra Yoga Aditama, mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, mengatakan perjalanan kepemimpinan SEARO dalam beberapa tahun terakhir memang mengalami dinamika yang cukup besar.
Saima Wazed terpilih sebagai Regional Director pada November 2023 dan secara resmi mulai menjalankan tugas pada 1 Februari 2024 untuk masa jabatan lima tahun. Sebelum memimpin SEARO, Saima dikenal aktif dalam isu autisme dan kesehatan mental serta pernah menjadi penasihat Direktur Jenderal WHO untuk bidang tersebut. Ia juga merupakan putri mantan Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina.
Namun, situasi berubah setelah terjadi pergolakan politik di Bangladesh pada 2024. Sheikh Hasina meninggalkan jabatannya sebagai perdana menteri pada 5 Agustus 2024 dan kemudian berada di India. Perubahan politik tersebut turut membawa konsekuensi terhadap posisi Saima Wazed.
Pada Juli 2025, WHO menempatkan Saima dalam status unpaid administrative leave atau cuti administratif tanpa bayaran. Di saat yang sama, sejumlah tuduhan terhadap dirinya diperiksa oleh otoritas Bangladesh maupun WHO. Saima sendiri membantah tuduhan tersebut.
Selama Saima menjalani cuti, kepemimpinan sehari-hari SEARO dijalankan oleh Dr Catharina Boehme sebagai Officer in Charge. Setelah lebih dari setahun, posisi tersebut kemudian beralih kepada Dr Nilesh Buddha efektif 17 Agustus 2026.
Nilesh Buddha bukan sosok baru di lingkungan SEARO. Ia sebelumnya menjabat sebagai Regional Emergencies Director dan Acting Director, Programme Management. WHO menyebut Buddha memiliki pengalaman sekitar tiga dekade di bidang kesehatan masyarakat dan pernah bekerja di sejumlah kawasan WHO.
Perkembangan terbaru kemudian terjadi pada 8 September 2026. Negara-negara anggota Komite Regional WHO Asia Tenggara merekomendasikan penghentian masa jabatan Saima Wazed sebagai Regional Director. Sehari kemudian, Saima menyampaikan pengunduran dirinya kepada Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Dalam surat pengunduran dirinya, Saima menyatakan telah kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan Tedros. Ia juga menyebut hampir setahun tanpa menerima remunerasi membuat kondisi keuangannya tidak lagi dapat dipertahankan.
Dengan pengunduran diri tersebut, kepemimpinan SEARO kini memasuki masa transisi. Dr Nilesh Buddha akan tetap menjalankan tugas sebagai Officer in Charge sampai Regional Director baru ditetapkan.
Menurut Prof Tjandra, dinamika ini menarik untuk dicermati karena SEARO merupakan salah satu kawasan penting dalam struktur WHO. Kawasan ini mencakup 11 negara dengan populasi lebih dari dua miliar orang, sehingga siapa pun yang nantinya terpilih sebagai Regional Director akan memegang peran strategis dalam arah kebijakan kesehatan masyarakat di kawasan tersebut.
“Perkembangan terakhir ini berarti akan diadakan pemilihan pimpinan WHO Asia Tenggara dalam waktu dekat. Kita tunggu siapa yang akan memimpin WHO Asia Tenggara yang menghimpun sekitar seperlima penduduk dunia ini”, ungkapnya.
Pergantian kepemimpinan tersebut sekaligus menjadi momentum bagi SEARO untuk memastikan kesinambungan program kesehatan di tengah berbagai tantangan kawasan, mulai dari penyakit menular dan tidak menular, penguatan sistem kesehatan hingga kesiapsiagaan menghadapi kedaruratan kesehatan.


