TAHERAN|MEB.COM – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas. Pemerintah Iran menegaskan bahwa jalur pelayaran strategis dunia, Selat Hormuz, tidak sepenuhnya ditutup bagi kapal internasional. Namun, Teheran memperingatkan bahwa perairan vital tersebut berada di bawah kendali penuh mereka dan tidak semua negara bebas melintas.
Pernyataan keras itu disampaikan Komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam, Alireza Tangsiri, di tengah memanasnya hubungan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Menurut Tangsiri, klaim Washington yang menyebut kemampuan angkatan laut Iran telah dihancurkan sama sekali tidak berdasar. Ia menegaskan bahwa jalur laut paling strategis di dunia itu tetap diawasi secara ketat oleh Iran.
“Selat Hormuz tidak ditutup secara militer. Jalur itu tetap terbuka, tetapi berada di bawah pengawasan dan kendali kami,” ujar Tangsiri seperti dikutip kantor berita Tasnim.
Iran Kirim Pesan Tegas ke Dunia
Pernyataan serupa disampaikan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Ia menegaskan bahwa kapal internasional masih dapat melintas di Selat Hormuz, namun pengecualian berlaku bagi kapal milik negara yang dianggap memusuhi Iran.
Menurut Araghchi, kapal tanker dan kapal dagang dari Amerika Serikat, Israel, serta sekutu mereka tidak akan diizinkan melintasi jalur tersebut.
“Selat Hormuz terbuka. Namun bagi kapal milik musuh kami mereka yang menyerang Iran dan sekutunya jalur itu tertutup,” tegas Araghchi dalam wawancara dengan MS Now.
Ia juga menyebut sebagian negara memilih menghindari jalur tersebut karena faktor keamanan. Namun Iran menilai keputusan itu bukan akibat pembatasan dari pihaknya.
Jalur Minyak Dunia yang Super Sensitif
Selat Hormuz merupakan jalur laut paling krusial bagi perdagangan energi global. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab ini.
Karena itu, setiap ketegangan di wilayah tersebut langsung memicu gejolak pasar energi global. Harga minyak mentah dunia bahkan sempat melonjak hingga mendekati 100 dolar AS per barel.
Situasi semakin memanas setelah serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu.
Trump Ancam Tenggelamkan Kapal Iran
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengambil sikap keras. Ia mendesak negara-negara besar seperti China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris untuk mengirim kapal perang ke kawasan tersebut guna memastikan jalur pelayaran tetap aman.
Trump bahkan menyatakan militer AS siap terus menyerang garis pantai Iran di sekitar Selat Hormuz jika dianggap mengancam pelayaran internasional.
“Militer kami akan memastikan jalur itu aman. Jika perlu, kapal-kapal Iran yang menjadi ancaman akan ditenggelamkan,” tulis Trump melalui akun Truth Social.
Kapal Asia Tetap Berani Melintas
Di tengah ketegangan itu, beberapa kapal tanker tetap melintasi Selat Hormuz. Kapal dari India dan China dilaporkan berhasil melewati jalur tersebut dengan aman.
Namun situasi ini tetap membuat pasar energi global waspada. Bahkan negara-negara Barat telah menggelontorkan ratusan juta barel cadangan minyak strategis untuk menahan lonjakan harga minyak dunia.
Dengan Selat Hormuz yang menjadi “urat nadi” perdagangan energi global, setiap langkah Iran maupun Amerika Serikat berpotensi memicu krisis energi baru yang dampaknya terasa hingga seluruh dunia.***


