Kuba Borong Drone Rusia-Iran, AS Siaga di Florida

FLORIDA|MEB.COM – Ketegangan geopolitik kembali memanas di kawasan Karibia setelah laporan intelijen yang dikutip Axios menyebut Kuba diduga membeli lebih dari 300 drone militer dari Rusia dan Iran. Informasi itu langsung memicu kekhawatiran serius di Washington karena drone-drone tersebut disebut berpotensi mengancam pangkalan militer Amerika Serikat di Guantanamo Bay hingga wilayah Key West, Florida.

Laporan yang muncul pada Minggu (17/05) itu menyebut pemerintah Kuba diduga membahas kemungkinan penggunaan drone serang terhadap aset militer Amerika di kawasan Karibia, termasuk kapal perang AS. Situasi ini dinilai menjadi salah satu eskalasi paling sensitif di wilayah dekat perbatasan Amerika dalam beberapa tahun terakhir.

Pemerintahan Presiden Donald Trump dilaporkan semakin waspada setelah muncul dugaan keterlibatan penasihat militer Iran di Kuba. Seorang pejabat senior AS yang identitasnya dirahasiakan menyebut perkembangan teknologi drone di dekat wilayah Amerika sebagai ancaman serius yang terus berkembang.

Menurut sumber tersebut, kombinasi teknologi drone modern dengan keterlibatan negara seperti Rusia dan Iran dapat memperbesar risiko keamanan nasional Amerika Serikat. Washington juga meyakini Havana telah aktif menjalin kerja sama pembelian drone serang sejak 2023 dan kini disebut berupaya memperkuat arsenal militernya di tengah meningkatnya tensi geopolitik global.

Di sisi lain, pemerintah Kuba membantah tuduhan bahwa negaranya tengah menyiapkan ancaman terhadap Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodríguez Parrilla, menuding Washington sengaja membangun narasi ancaman untuk membenarkan tekanan ekonomi dan kebijakan agresif terhadap Havana.

Melalui pernyataannya di platform X, Bruno menegaskan Kuba tidak mengancam negara mana pun dan tidak memiliki kepentingan untuk memicu perang. Meski demikian, pemerintah Kuba tidak secara tegas membantah isu pembelian drone dari Rusia dan Iran yang menjadi sorotan utama laporan tersebut.

Ketegangan ini juga terjadi bersamaan dengan meningkatnya tekanan politik Washington terhadap Kuba. Sejumlah media Amerika sebelumnya melaporkan pemerintahan Trump tengah mempertimbangkan langkah hukum terhadap mantan Presiden Kuba Raúl Castro, adik dari Fidel Castro.

Direktur CIA John Ratcliffe juga disebut melakukan kunjungan ke kawasan Karibia dan memperingatkan Kuba agar tidak menjadi titik operasi bagi pihak-pihak yang dianggap musuh Amerika di belahan Barat.

Sementara itu, kebijakan keras Washington terhadap Havana terus meningkat. Amerika Serikat disebut memperketat tekanan ekonomi dengan ancaman tarif terhadap negara-negara yang memasok energi ke Kuba. Dampaknya, negara tersebut dilaporkan mengalami krisis energi dan pemadaman listrik di sejumlah wilayah.

Di tengah situasi yang semakin panas, pernyataan Donald Trump yang pernah menyebut Amerika Serikat dapat “mengambil alih” Kuba “dalam waktu singkat” kembali menjadi perhatian dunia dan memicu kekhawatiran baru akan potensi konflik di kawasan Amerika Latin.***

Pos terkait