Rupiah Melemah, Mahasiswa Indonesia di Australia Kian Tertekan oleh Lonjakan Biaya Hidup

JAKARTA|MEB.COM – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Australia mulai dirasakan langsung oleh mahasiswa Indonesia yang tengah menempuh pendidikan di Negeri Kanguru. Kenaikan biaya kebutuhan sehari-hari, sewa tempat tinggal, hingga transportasi membuat banyak pelajar harus mengatur ulang strategi keuangan agar tetap dapat memenuhi kebutuhan selama studi.

Per Selasa, 2 Juni 2026, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp12.791 per dolar Australia. Kondisi ini menyebabkan beban pengeluaran mahasiswa yang masih bergantung pada dukungan dana dari Indonesia semakin meningkat.

Salah satu yang merasakan dampaknya adalah Akmal Ismail Zain, mahasiswa S1 Ilmu Farmasi di Monash University. Akmal mengungkapkan bahwa biaya hidup bulanannya kini meningkat sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta dibandingkan saat pertama kali tiba di Australia pada awal tahun. Kenaikan tersebut membuatnya mulai mempertimbangkan pekerjaan paruh waktu sebagai langkah antisipasi menghadapi ketidakpastian nilai tukar di masa mendatang.

Tekanan serupa juga dirasakan oleh banyak mahasiswa Indonesia lainnya. Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA), Muhammad Hadiyan Ridho, menilai pelemahan rupiah memberikan dampak signifikan, terutama bagi mahasiswa yang membiayai pendidikan secara mandiri. Menurutnya, penguatan dolar Australia terhadap rupiah dalam setahun terakhir telah meningkatkan beban pengeluaran mahasiswa, mulai dari kebutuhan harian hingga biaya transportasi.

Ridho menambahkan, mahasiswa yang memiliki kendaraan pribadi menjadi salah satu kelompok yang paling terdampak karena harus menanggung kenaikan biaya bahan bakar dan operasional kendaraan yang semakin mahal.

Di Adelaide, mahasiswa S2 Administrasi Bisnis Adelaide University, Stephanie Permata Putri atau Tata, mengaku kenaikan harga makanan dan biaya sewa menjadi faktor utama yang menggerus anggaran bulanannya. Meski masih menerima dukungan beasiswa, ia merasakan dana yang dimiliki kini lebih cepat habis dibanding sebelumnya.

“Tahun ini memang ada penyesuaian tambahan uang saku sekitar lima persen dari pemerintah Australia, namun kenaikan biaya hidup masih sangat terasa,” ungkapnya.

Sementara itu, Ahimsa Wardah Swadeshi, mahasiswa S2 Jurnalistik di University of Melbourne, mengatakan beban terbesar datang dari biaya sewa apartemen studio dan tagihan listrik setelah memilih tinggal mandiri. Penerima beasiswa LPDP tersebut menilai perlunya evaluasi terhadap besaran bantuan pendidikan jika tren kenaikan biaya hidup terus berlanjut akibat ketidakpastian ekonomi global.

Menurut Ahimsa, lonjakan harga yang berkepanjangan berpotensi memengaruhi daya beli mahasiswa internasional, termasuk mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Australia.

Menghadapi situasi tersebut, banyak mahasiswa mulai menerapkan pola hidup lebih hemat. Berbagai langkah dilakukan, mulai dari memasak sendiri, mengurangi frekuensi makan di luar, membatasi aktivitas hiburan, hingga memanfaatkan program diskon di supermarket maupun restoran.

Bagi para mahasiswa Indonesia di Australia, pelemahan rupiah kini bukan lagi sekadar persoalan kurs valuta asing. Kondisi tersebut telah menjadi tantangan nyata yang memengaruhi kehidupan sehari-hari, sekaligus menuntut kemampuan beradaptasi di tengah meningkatnya biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi global.***

Pos terkait