Rusia Diduga Bantu Iran Serang AS, Pakar Inggris Sebut Perang Dunia III Sudah Dimulai

JAKARTA|MEB.COM – Ketegangan geopolitik global kini memasuki fase paling berbahaya. Di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, muncul laporan intelijen yang menyebut Rusia ikut bermain di balik layar. Bahkan, seorang pakar militer Inggris menyebut dunia sudah memasuki fase awal Perang Dunia III.

Sejumlah pejabat di Washington mengungkapkan bahwa Rusia diduga memberikan bantuan intelijen kepada Iran dalam konflik yang kini mengguncang Timur Tengah. Informasi tersebut disebut mencakup data sensitif mengenai lokasi dan pergerakan aset militer Amerika Serikat yang beroperasi di kawasan tersebut.

Menurut sumber intelijen yang dikutip media Amerika, data yang diberikan Moskow kepada Teheran meliputi posisi kapal perang hingga jalur operasi pesawat militer AS.

Informasi itu diyakini digunakan Iran untuk merencanakan serangan terhadap pangkalan serta kekuatan militer Amerika di wilayah Timur Tengah.

Seorang pejabat Washington bahkan menggambarkan dukungan intelijen Rusia sebagai operasi yang luas dan terorganisasi.

“Sejak konflik meletus, Rusia disebut telah mengirimkan informasi tentang posisi aset militer Amerika, termasuk kapal perang dan pesawat,” ujar sumber tersebut.

Meski demikian, pemerintah Rusia memilih tidak memberikan tanggapan langsung. Juru bicara Kremlin menolak mengomentari tudingan tersebut. Moskow sendiri selama ini menilai konflik yang terjadi sebagai dampak dari agresi Barat terhadap Iran.

Pakar Inggris: Tiga Tanda Perang Dunia III Sudah Dimulai

Di tengah situasi yang semakin panas, pakar militer dan sejarawan Inggris, Profesor Anthony Glees, memberikan peringatan keras. Dalam analisisnya, ia menyebut terdapat tiga tanda kuat bahwa dunia telah memasuki tahap awal Perang Dunia III.

Pertama adalah munculnya “perang pilihan”, yaitu konflik yang dimulai bukan karena serangan langsung, melainkan keputusan politik untuk menyerang lebih dulu.

Serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dinilai Glees sebagai contoh dari perang jenis ini. Ia membandingkannya dengan pemicu konflik global pada masa lalu.

“Kedua Perang Dunia juga berawal dari perang pilihan,” ujarnya dalam wawancara media Inggris.

Tanda kedua adalah pola pikir para pemimpin negara yang terlibat. Glees menilai beberapa pemimpin dunia kini lebih mengedepankan kekuatan militer dibandingkan hukum internasional.

Menurutnya, logika yang digunakan adalah bahwa kekuatan menentukan kebenaran, bukan lagi aturan global yang selama ini menjadi landasan hubungan internasional.

Faktor ketiga yang dianggap sangat menentukan adalah komitmen kepemimpinan Amerika Serikat dalam melanjutkan konflik. Jika perang terus diperpanjang, risiko konflik meluas akan semakin besar.

Glees bahkan memperingatkan bahwa konflik regional dapat dengan cepat berubah menjadi perang global apabila negara-negara lain melihat peluang untuk memperluas pengaruhnya.

Ia menyebut sejumlah kekuatan dunia berpotensi terlibat dalam konflik yang lebih luas, mulai dari Rusia di kawasan Eropa Timur, China di Taiwan, hingga Korea Utara di Asia Timur.

Serangan Iran Mulai Menyasar Aset Amerika
Sementara itu, konflik di lapangan terus berkembang. Iran dilaporkan telah melancarkan sejumlah serangan terhadap fasilitas militer Amerika di Timur Tengah.

Serangan tersebut dikabarkan menewaskan enam personel militer AS di Kuwait dan merusak fasilitas militer di Bahrain. Selain itu, sebuah drone Iran juga sempat menyerang bangunan yang menampung stasiun intelijen Amerika di Riyadh, Arab Saudi, meskipun tidak menimbulkan korban.
Namun hingga kini, Iran belum berhasil mengenai kapal perang Amerika di wilayah konflik.

Pentagon mencatat intensitas serangan Iran mulai menurun setelah pesawat pengebom Amerika meningkatkan operasi militer yang menargetkan peluncur rudal serta pusat komando Iran.

Intelijen Rusia Diduga Terlibat

Sejumlah pejabat Amerika menyebut Rusia diduga memasok citra satelit dan data intelijen mengenai pergerakan pasukan AS kepada Iran.

Meski demikian, beberapa analis meragukan efektivitas data tersebut. Mereka menilai kemampuan teknologi rudal Iran masih tertinggal jauh dibanding Rusia sehingga belum tentu mampu memanfaatkan informasi tersebut secara akurat.

Namun fakta bahwa informasi itu terus diberikan sejak awal konflik membuat hubungan diplomatik antara Washington dan Moskow semakin tegang.

Diplomasi Diam-Diam Moskow
Di tengah situasi panas tersebut, Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan telah melakukan komunikasi langsung dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.

Dalam pernyataan resmi Kremlin, kedua pemimpin sepakat untuk terus menjalin komunikasi di tengah konflik yang memanas.

Putin juga menyampaikan belasungkawa atas wafatnya pemimpin tertinggi Iran sebelumnya, Ayatollah Ali Khamenei.
Moskow bahkan menyerukan penghentian permusuhan dan meminta semua pihak kembali ke jalur diplomasi.

Meski demikian, Kremlin tidak menyinggung tudingan soal pertukaran intelijen militer dengan Teheran.

Aliansi Militer yang Menguat

Hubungan Rusia dan Iran sendiri semakin erat dalam beberapa tahun terakhir. Iran diketahui menjadi pemasok utama drone tempur bagi Rusia dalam konflik di Ukraina.

Sebagai imbalannya, Rusia diduga memberikan bantuan teknologi militer serta dukungan intelijen kepada Teheran.
Pertukaran dukungan militer inilah yang kini membuat konflik Timur Tengah semakin kompleks dan berpotensi melibatkan kekuatan besar dunia.

Jika eskalasi terus meningkat, banyak pengamat khawatir konflik regional ini bisa berubah menjadi konfrontasi global yang jauh lebih besar.***

Pos terkait